MAGELANG – Pengembangan usaha budi daya jamur berbasis desa menunjukkan dampak ekonomi yang signifikan setelah pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memanfaatkan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebagai modal pengembangan usaha. Di Desa Wanurejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, usaha jamur yang bermula dari skala rumahan kini berkembang menjadi wisata edukasi yang menyerap puluhan tenaga kerja dan menggandeng petani lokal.
Transformasi tersebut dialami Puput Setioko yang memulai usaha budi daya jamur tiram secara mandiri pada 2013 dari satu rak sederhana di sudut rumahnya. Keterbatasan peluang kerja mendorongnya menekuni usaha tersebut dengan memasarkan hasil panen langsung ke pasar tradisional dan pedagang sayur keliling.
Perkembangan usaha mulai terlihat pada 2014 setelah Puput memperoleh pembiayaan KUR dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) senilai Rp5 juta. Modal tersebut digunakan untuk membeli peralatan produksi yang kemudian menjadi pijakan pengembangan usaha hingga skala yang lebih besar.
“Pinjaman terbesar, Rp 100 juta, saya gunakan membangun pendopo depan. Kemudian pendopo-pendopo lain menyusul dari tahun ke tahun berikutnya,” ungkap Puput menceritakan perjalanan usahanya kepada Kompas.com, Senin (15/6/2026), sebagaimana dilansir Kompas, Kamis (18/06/2026).
Dengan dukungan permodalan yang terus bertambah, Puput mengembangkan berbagai produk olahan jamur, termasuk keripik jamur, sekaligus membangun konsep wisata edukasi terintegrasi di kawasan Borobudur. Kehadiran usaha tersebut juga membuka peluang kerja bagi warga desa, khususnya ibu rumah tangga yang terlibat dalam proses produksi dan pengemasan produk.
Saat ini, usaha yang dirintis dari rumah tersebut mampu menghasilkan omzet bersih hingga ratusan juta rupiah per bulan. Selain menyerap puluhan pekerja, usaha tersebut juga bermitra dengan sekitar 20 petani jamur di wilayah setempat sehingga turut memperkuat ekonomi desa dari sektor hulu hingga hilir.
Keberhasilan serupa juga ditunjukkan oleh Ratidjo Hardjo Suwarno, pemilik restoran Jejamuran di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Setelah menghadapi keterbatasan modal dan rendahnya minat masyarakat terhadap konsumsi jamur, Ratidjo akhirnya memperoleh pembiayaan KUR yang menjadi titik awal pengembangan usahanya.
“Meski saya dulu sering bertemu teman-teman pimpinan bank, karena saya bekas pimpinan perusahaan, tetapi awalnya tidak ada yang mau merespons usaha saya karena dianggap belum layak,” ujarnya kepada Kompas.com (14/4/2026).
Dukungan pembiayaan tersebut memungkinkan Jejamuran berkembang menjadi salah satu destinasi kuliner berbasis jamur yang dikenal luas. Usaha itu kini memiliki sekitar 250 karyawan, lahan budi daya seluas 2,5 hektare, serta mampu melayani hingga 2.000–3.000 pengunjung setiap hari.
Kisah kedua pelaku usaha tersebut menunjukkan bahwa akses pembiayaan bagi UMKM tidak hanya membantu peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga menciptakan lapangan kerja, memperkuat ekonomi desa, serta mendorong lahirnya destinasi wisata edukasi dan kuliner berbasis potensi lokal. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara