BANGKA SELATAN – Tradisi kuliner dan kebersamaan masyarakat Desa Nyelanding, Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, kembali menjadi sorotan karena skala konsumsi dan partisipasi warga yang sangat besar dalam peringatan 1 Muharam 1448 Hijriah melalui tradisi Hikuk Helawang yang menggabungkan budaya nganggung dan jamuan terbuka bagi masyarakat.
Ribuan warga Desa Nyelanding sejak Senin (15/06/2026) petang telah berkumpul di balai pertemuan untuk melaksanakan tradisi nganggung sebagai rangkaian awal Hikuk Helawang yang akan digelar pada Selasa (16/06/2026), dengan sajian utama berupa ayam panggang dan ketan pulut yang disiapkan secara gotong royong oleh setiap rumah warga.
Kepala Desa Nyelanding, Nurdin, mengatakan tradisi tersebut telah menjadi agenda tahunan yang selalu dinantikan masyarakat, sekaligus menjadi ruang silaturahmi terbuka bagi warga maupun tamu dari berbagai daerah di Pulau Bangka. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini juga berdampak pada perputaran ekonomi lokal karena tingginya kebutuhan bahan pangan menjelang perayaan.
“Kami mengundang seluruh masyarakat untuk bersilaturahmi ke desa kami,” kata dia kepada Bangkapos.com sebagaimana diberitakan Sumber Berita, Senin, (15/06/2026).
Nurdin menjelaskan, Hikuk Helawang merupakan tradisi adat masyarakat Bangka Belitung yang rutin digelar setiap 1 Muharam dan memiliki kemiripan dengan tradisi Sepintu Sedulang, namun dengan ciri khas penyajian ayam kampung serta ketan pulut dalam jumlah besar di setiap rumah warga.
Ia menambahkan, partisipasi masyarakat dalam tradisi ini sangat tinggi, dengan sekitar 1.700 rumah tangga di Desa Nyelanding ikut serta menyiapkan jamuan. Setiap rumah bahkan dapat menyiapkan antara 10 hingga 30 kilogram ayam, sehingga total kebutuhan ayam diperkirakan mencapai sekitar 51 ton dalam satu perayaan.
Meski kebutuhan bahan makanan meningkat signifikan, warga tetap menunjukkan antusiasme tinggi. Nurdin menyebut kondisi tersebut mencerminkan kekuatan ekonomi dan solidaritas sosial masyarakat desa yang tetap terjaga.
“Alhamdulillah, ekonomi warga masih cukup baik. Kita merayakan tradisi 1 Muharam ini seperti setiap tahun kita laksanakan,” jelas Nurdin.
Selain menjadi tradisi budaya, Hikuk Helawang juga berkembang sebagai daya tarik wisata, karena membuka akses kunjungan bagi masyarakat luar desa yang ingin menikmati suasana kebersamaan, hidangan tradisional, serta potensi wisata lokal berupa pemandian air panas alami di Desa Nyelanding.
Nurdin juga menyampaikan bahwa seluruh rumah warga terbuka bagi siapa saja yang ingin berkunjung tanpa pengecualian.
“Seluruh rumah di desa tersebut terbuka bagi siapa saja yang ingin berkunjung tanpa pengecualian,” ucapnya.
Ia berharap tradisi ini terus dilestarikan sebagai identitas budaya sekaligus penggerak ekonomi masyarakat desa, serta mampu menarik lebih banyak wisatawan untuk datang langsung ke Desa Nyelanding.
“Mari datang ke desa kami, warga menyiapkan Ayam Panggang dan Nasi Ketan. Kita juga ada objek wisata air panas alami,” pungkas Nurdin. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara