JEMBRANA – Penguatan inovasi berbasis data di tingkat banjar di Kabupaten Jembrana, Bali, kembali menjadi sorotan setelah Banjar Smart Hub di Desa Warnasari Kelod mendapat apresiasi dari peneliti Universitas Hitotsubashi, Jepang, yang menilai model layanan digital tersebut berpotensi menjadi rujukan pengembangan desa berbasis data di kawasan Asia Tenggara.
Inovasi Banjar Smart Hub yang merupakan pengembangan dari program Desa Cinta Statistik (Desa Cantik) Desa Warnasari Kelod, menarik perhatian akademisi dan peneliti asal Jepang, Yusuke Koizumi, yang secara langsung melakukan kunjungan lapangan ke banjar tersebut untuk mempelajari implementasi layanan publik berbasis digital dan pemanfaatan data desa.
Kunjungan yang berlangsung di Balai Banjar Warnasari Kelod pada Jumat (12/06/2026) itu disambut Kelian Banjar Warnasari Kelod, I Kadek Sri Rama Usmantara, bersama perangkat desa setempat. Dalam kunjungan tersebut, Yusuke Koizumi yang bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) Cabang Jembrana menyoroti pentingnya basis data yang kuat dalam mendorong inovasi pelayanan publik di tingkat desa.
“Pertama kali datang dan melihat, Saya kagum sekali, desa ini (warnasari) lingkungannya sangat asri, indah, bersih sekali,” ungkapnya.
Ia menilai pendekatan berbasis data yang diterapkan melalui program Desa Cinta Statistik (Desa Cantik) telah menjadi fondasi penting lahirnya inovasi Banjar Smart Hub yang dinilai mampu meningkatkan kualitas layanan masyarakat secara lebih efektif dan terukur.
“Saya kembali mengapresasi program Banjar Smart Hub ini, tentu semua diawali dari pondasi data yang telah disusun dan terverifikasi dengan baik. Dengan data yang valid, kemudian didukung dengan sentuhan inovasi maka lahirkan program yang luar biasa ini. Semoga ini bisa diaplikasikan didesa-desa lainnya,” ujarnya.
Selain memberikan apresiasi, Yusuke Koizumi juga menyatakan komitmennya untuk mendukung penguatan data spasial di Banjar Warnasari Kelod. Data spasial tersebut mencakup informasi lokasi, sebaran, hingga potensi wilayah yang dinilai penting untuk perencanaan pembangunan berbasis peta digital.
“Melalui data spasial yang lebih akurat, Banjar dapat menyusun perencanaan pembangunan, pengelolaan sumber daya, serta program Banjar Smart Hub secara lebih terarah, tepat sasaran, dan berbasis data,” ucapnya.
Sementara itu, Kelian Banjar Warnasari Kelod, I Kadek Sri Rama Usmantara, menyebut kunjungan tersebut memberikan dampak positif bagi penguatan program yang tengah dikembangkan di tingkat banjar. Ia menilai masukan dari peneliti internasional menjadi dorongan penting untuk penyempurnaan sistem layanan digital tersebut.
“Beliau adalah seorang peniliti yang fokus di Asia Tenggara, khususnya pembagunan pedesaan. Meski singkat sekali, namun banyak yang ilmu yang beliau berikan dan itu semua itu sejalan untuk penyempurnaan program Banjar Smart Hub kita ini,” pungkasnya.
Program Banjar Smart Hub sendiri sebelumnya telah diluncurkan oleh Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan, sebagai transformasi balai banjar dari fungsi tradisional menjadi pusat layanan publik digital yang memungkinkan masyarakat mengakses administrasi, layanan publik, hingga pembayaran pajak melalui satu aplikasi di gawai pintar, sebagaimana diwartakan RRI, Rabu, (17/06/2026).
Transformasi ini diharapkan memperkuat ekosistem layanan publik desa yang lebih cepat, transparan, dan berbasis data, sekaligus menjadi model pengembangan inovasi desa digital di daerah lain di Indonesia. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara