Dari Garam Tradisional hingga Air Terjun, Desa Les Sajikan Wisata Lengkap

BULELENG Pengembangan wisata berbasis desa di Kabupaten Buleleng (Buleleng), Bali, terus menunjukkan hasil positif. Desa Les menjadi salah satu contoh keberhasilan pengelolaan potensi lokal melalui konsep wisata “Nyegara Gunung” yang menggabungkan kekayaan laut dan pegunungan dalam satu paket pengalaman wisata terpadu.

Konsep tersebut tidak hanya menawarkan destinasi wisata alam, tetapi juga mengangkat budaya, edukasi, kuliner, serta pemberdayaan masyarakat desa. Melalui pendekatan tersebut, Desa Les berhasil menarik perhatian wisatawan sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat setempat.

Penggerak atau Local Champion Desa Sejahtera Astra (DSA) Les, Nyoman Nadiana, menjelaskan bahwa keunikan Desa Les terletak pada bentang wilayahnya yang mencakup kawasan pesisir hingga pegunungan dalam satu desa.

“Hanya Desa Les yang sebuah desa yang formatnya komplit satu desa. Jadi gini, Desa Les itu kalau kayak anatomi tubuh kakinya di laut, pusat desanya juga panjang, jadi dari pantai, pasar, sampai ke air terjun itu sudah masuk bukit,” katanya sebagaimana dilansir Kumparan, Jumat (05/06/2026).

Menurutnya, konsep “Nyegara Gunung” diterapkan dalam setiap paket perjalanan wisata yang ditawarkan kepada pengunjung.

“Bikin apa pun selalu kayak gitu, termasuk trip kayak gitu. Makanya di arah pantai dulu, laut, barulah masuk-masuk desa, teman-teman bisa ngerasain gunungnya,” ujarnya.

Melalui konsep tersebut, wisatawan dapat menikmati beragam aktivitas mulai dari wisata budaya, wisata alam, wisata edukasi hingga wisata kuliner. Pada sektor budaya, pengunjung dapat mengenal tradisi lokal seperti Sanggah Kemulan Dadap, kesenian Tapel Ngandong, serta proses produksi Garam Les yang masih dipertahankan masyarakat sebagai mata pencaharian turun-temurun.

Sementara pada sektor alam, wisatawan dapat menikmati kegiatan snorkeling, pendakian ke Bukit Yangudi, hingga mengunjungi Air Terjun Yeh Mampem. Adapun wisata edukasi menghadirkan pengalaman belajar mengenai pengelolaan sampah melalui Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) desa yang juga mengembangkan pengolahan sampah organik dan budidaya spirulina.

Dari sisi kuliner, Desa Les menawarkan beragam hidangan khas seperti Mengguh dan Jukut Blook, serta berbagai sajian tradisional Bali yang tersedia di sejumlah pusat kuliner desa.

“Makanya saya punya tagline, kalau mau escape, ya, ke Les aja. Karena Les jadinya artinya juga escape. Melarikan diri, pelarian,” ujarnya.

Keberhasilan pengembangan wisata desa tersebut mendapat dukungan dari program Desa Sejahtera Astra yang mulai mendampingi Desa Les sejak 2024. Program tersebut berfokus pada penguatan sektor kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan masyarakat.

Head of Corporate Communications Astra, Windy Riswantyo, menyebut program tersebut telah memberikan dampak nyata bagi masyarakat desa.

“Program ini telah menjangkau lebih dari 800 masyarakat desa, mendorong peningkatan pendapatan masyarakat sebesar 25 persen, menyerap puluhan tenaga kerja baru, serta membantu penyerapan pasar terhadap produk lokal hingga 100 persen,” ujarnya.

Windy menilai Desa Les memiliki kekuatan pada sektor alam, budaya, dan ekonomi lokal yang dapat terus dikembangkan melalui pemberdayaan masyarakat berkelanjutan.

“Astra melihat potensi tersebut dapat terus dikembangkan melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan sehingga mampu menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, pelestarian budaya, dan lingkungan,” kata Windy.

Kepala Desa (Kades) Les, Gede Adi Wistara, menambahkan bahwa pendampingan yang diberikan turut mendorong desa membuka diri sebagai lokasi penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan.

“Karena kita jadi binaan Astra, tentu kita selalu siap. Menyambut kunjungan ataupun penelitian. Jadi, semenjak kita itu mendapatkan penghargaan Anugerah Desa Wisata, tentu tambah sibuk saya dengan teman-teman, kan,” ujar Gede.

Prestasi Desa Les semakin diperkuat setelah meraih gelar Juara Umum Desa Wisata Terbaik dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024. Penghargaan tersebut menjadi modal penting bagi desa untuk terus mengembangkan pariwisata berkelanjutan yang mengedepankan keseimbangan antara ekonomi, budaya, dan lingkungan. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Misteri Hilangnya Nelayan Desa Rejai, Sampan Ditemukan Tanpa Penghuni

PDF đź“„LINGGA – Upaya pencarian seorang nelayan yang dilaporkan hilang di perairan Buyu Besar, Kecamatan …

Pemprov Babel Perkuat Aksi Bersih Lingkungan Lewat Penanaman Mangrove

PDF đź“„BANGKA TENGAH – Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia di Desa Baskara Bakti, Kabupaten Bangka …

Desa Piji Salurkan Bantuan Pangan untuk Seribu Lebih Warga

PDF đź“„KUDUS – Sebanyak 1.031 warga Desa Piji, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus menerima bantuan pangan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *