BANYUMAS – Desa Melung di Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, berhasil mengubah kawasan persawahan menjadi destinasi wisata berbasis alam yang mampu meningkatkan pendapatan desa sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat tanpa mengurangi fungsi lahan pertanian produktif.
Keberhasilan pengembangan Wisata Pagubugan menjadi salah satu bukti pemanfaatan potensi lokal desa secara berkelanjutan. Kawasan yang berada di lereng Gunung Slamet tersebut kini tidak hanya menjadi tujuan wisata alam, tetapi juga mendorong tumbuhnya usaha masyarakat melalui sektor pariwisata, sebagaimana diberitakan Suara Merdeka, Jumat (05/06/2026).
Kepala Desa (Kades) Melung, Khoerudin, menjelaskan bahwa kawasan wisata tersebut awalnya merupakan area persawahan yang memiliki sebuah batu besar yang kerap digunakan petani untuk berteduh saat hujan maupun terik matahari.
“Kawasan ini dulunya hanya persawahan. Ada batu besar yang digunakan petani untuk berteduh dan beristirahat. Dari situlah nama Pagubugan berasal,” ujar Khoerudin.
Menurutnya, pengembangan wisata desa berangkat dari visi pembangunan yang berfokus pada pemanfaatan sumber daya alam untuk mendukung sektor pariwisata. Berbagai potensi alam seperti hamparan sawah, perkebunan, perbukitan, serta panorama pegunungan menjadi modal utama pengembangan desa wisata.
“Terkait dengan gagasan membangun wisata desa menjadi misi saya yang ketiga pengembangan sumber daya alam untuk pariwisata,” kata Khoerudin.
Proses pembangunan dilakukan melalui perencanaan partisipatif yang melibatkan masyarakat sejak tahap awal. Berbagai usulan dibahas melalui musyawarah tingkat rukun warga (RW), dusun, hingga desa sebelum dimasukkan ke dalam dokumen perencanaan pembangunan.
Pada 2015, Desa Melung membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sebagai motor penggerak ekonomi desa. Dari berbagai diskusi bersama masyarakat, muncul gagasan mengembangkan kawasan persawahan Pagubugan menjadi destinasi wisata yang mampu memanfaatkan arus wisata di sekitar wilayah Baturraden dan kawasan perkemahan Tranggulasih.
“Kami melihat kendaraan wisatawan ramai menuju Baturraden di sebelah timur dan kawasan camping di sebelah barat.”
“Kami hanya menjadi penonton. Lalu muncul pertanyaan, apa yang bisa dilakukan Melung?” kenangnya.
Untuk menjaga keberlangsungan sektor pertanian, pembangunan wisata dilakukan pada lahan yang memiliki produktivitas rendah sehingga tidak mengganggu aktivitas petani.
“Area yang sekarang menjadi kompleks wisata dulunya hanya ditanami pisang dan hasilnya kurang baik.”
“Jadi yang kami manfaatkan adalah lahan-lahan yang produktivitasnya rendah,” jelasnya.
Pengembangan kawasan dilakukan secara bertahap, dimulai dari pembangunan jalan usaha tani, gazebo, program pembelajaran luar ruang berbasis pertanian, hingga pembangunan kolam renang pada 2018. Saat ini luas kawasan Wisata Pagubugan mencapai sekitar 4,5 hektare dengan hanya sekitar lima persen area yang dimanfaatkan untuk fasilitas wisata, sementara sisanya tetap menjadi lahan pertanian.
Penerapan tiket masuk secara bertahap turut meningkatkan kontribusi wisata terhadap perekonomian desa. Tarif yang kini sebesar Rp10 ribu per orang mampu menghasilkan Pendapatan Asli Desa (PAD) sekitar Rp87 juta per tahun.
“Yang terpenting bukan hanya pendapatan desa, tetapi bagaimana manfaatnya bisa dirasakan masyarakat luas,” katanya.
Dampak ekonomi juga dirasakan masyarakat melalui keterlibatan sekitar 30 orang dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), serta berkembangnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), homestay, kerajinan, hingga pertunjukan seni budaya lokal.
Desa Melung juga menawarkan paket wisata edukasi dan budaya. Wisatawan dapat menginap di rumah warga, belajar mengolah kopi, mengunjungi sentra UMKM, hingga menyaksikan pertunjukan seni lengger. Saat ini tersedia sekitar 20 rumah warga yang difungsikan sebagai homestay dengan tarif Rp70 ribu per orang per malam.
“Kami ingin wisatawan tidak hanya datang lalu pulang. Mereka bisa merasakan kehidupan desa dan berinteraksi langsung dengan masyarakat,” ujarnya.
Jumlah kunjungan wisatawan rata-rata mencapai 300 orang per bulan dan meningkat saat akhir pekan maupun musim libur nasional.
“Dari data tiket yang masuk beberapa hari kemarin, rata-rata sehari 300 pengunjung. Alhamdulillah, ternyata penghargaan desa wisata juga cukup signifikan mendongkrak kunjungan wisata,” katanya.
Meski kunjungan terus meningkat, pengelola memilih fokus menjaga kelestarian lingkungan dibanding menambah banyak wahana buatan.
“Kami berkomitmen menjaga keseimbangan antara wisata dan lingkungan. Karena itu kami rutin melakukan penanaman pohon dan kegiatan kebersihan,” kata Khoerudin.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pagubugan, Timbul Yulianto, mengatakan pihaknya terus membangun kolaborasi dengan pemerintah, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan untuk menjaga keberlanjutan sektor wisata desa.
Perjalanan Pagubugan yang berawal dari sebuah batu tempat berteduh kini mengantarkan Desa Melung menjadi salah satu desa wisata berprestasi. Setelah menempati peringkat ketujuh Lomba Desa Wisata Nusantara 2023 dan peringkat keempat pada 2024, Desa Melung berhasil meraih Juara I Lomba Desa Wisata Nusantara 2025 serta memperoleh penghargaan senilai Rp50 juta dari Kementerian Desa. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara