AGAM – Upaya percepatan penanganan stunting di Nagari Panampuang, Kecamatan Ampek Angkek, Kabupaten Agam (Agam), Sumatera Barat (Sumbar), diperkuat melalui forum Rumah Desa Sehat (RDS) yang memfokuskan pembahasan pada akar persoalan setiap kasus stunting. Pendekatan ini dilakukan untuk memastikan intervensi yang diberikan sesuai dengan kondisi masing-masing keluarga dan sasaran prioritas.
Kegiatan RDS yang berlangsung di Aula Nagari Panampuang pada Senin (25/5/2026) melibatkan berbagai unsur, mulai dari Pemerintah Nagari Panampuang, Tenaga Pendamping Profesional (TPP), kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), kader Kader Pembangunan Manusia (KPM), penyuluh Keluarga Berencana (KB), guru Taman Kanak-Kanak (TK), Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), hingga bidan desa.
Dalam forum tersebut, peserta tidak hanya membahas data stunting secara umum, tetapi juga menelaah kondisi setiap anak yang terdata mengalami stunting untuk mengidentifikasi faktor penyebab dan menentukan langkah penanganan yang tepat.
Data yang dipaparkan menunjukkan terdapat 35 ibu hamil di Nagari Panampuang. Dari jumlah tersebut, dua orang mengalami Kekurangan Energi Kronis (KEK) dan satu orang masuk kategori risiko tinggi. Sementara itu, dari 422 balita yang tercatat, sebanyak 43 anak terindikasi mengalami stunting.
Hasil diskusi mengungkap bahwa penyebab stunting di Panampuang tidak bersifat tunggal. Sebagian keluarga menghadapi keterbatasan ekonomi sehingga kebutuhan gizi anak belum terpenuhi secara optimal. Namun, terdapat pula keluarga dengan kondisi ekonomi memadai yang masih minim pemahaman mengenai pentingnya asupan gizi dan dampak stunting terhadap tumbuh kembang anak.
Wali Nagari Panampuang, Etriwarmon, mengatakan penanganan stunting harus disesuaikan dengan karakteristik setiap keluarga agar program yang dijalankan lebih efektif.
“Kadang kita melihat persoalannya sama-sama stunting, padahal penyebabnya berbeda. Ada yang terkendala ekonomi, ada yang kurang pemahaman. Maka solusi yang diberikan juga tidak bisa disamaratakan,” ujarnya.
Selain membedah kasus stunting, forum juga melakukan pemetaan sasaran 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sebagai dasar penyusunan intervensi bagi keluarga berisiko stunting. Pembahasan turut mencakup implementasi sembilan layanan konvergensi stunting yang meliputi sektor kesehatan, pendidikan, sanitasi, akses air bersih, perlindungan sosial, dan edukasi keluarga.
Seorang kader Posyandu yang mengikuti kegiatan tersebut menilai peningkatan kesadaran masyarakat harus terus dilakukan agar pemahaman mengenai stunting semakin baik.
“Masih ada orang tua yang menganggap anak pendek itu biasa karena faktor keturunan. Padahal kalau tidak ditangani sejak dini, dampaknya bisa panjang terhadap perkembangan anak,” ungkapnya.
Forum RDS juga menjadi bagian dari persiapan pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) dan Rembug Stunting Nagari yang dijadwalkan berlangsung pada 3 Juni 2026. Kegiatan tersebut diharapkan menghasilkan rekomendasi dan program konkret untuk menurunkan angka stunting di Panampuang.
Tenaga Pendamping Profesional (TPP) Ampek Angkek, Surya Putra, berharap pengurus RDS yang baru dikukuhkan dapat segera menyusun program kerja yang terarah dan terukur selama 2026.
“Kami berharap pengurus RDS yang sudah dikukuhkan hari ini segera menyiapkan program kerja selama satu tahun penuh. Semua layanan dasar terkait kesehatan di nagari harus terlihat, terdata, dan berjalan terkoordinasi dengan baik,” ujarnya.
Ia menegaskan keberhasilan penanganan stunting membutuhkan kerja sama lintas sektor dan tidak dapat dibebankan kepada satu lembaga maupun satu sumber pendanaan saja. Pernyataan tersebut disampaikan sebagaimana diwartakan Kompasiana, Selasa, (26/05/2026).
“Sejatinya persoalan stunting tidak akan selesai dengan kerja satu pihak saja. Ini adalah kerja kolaborasi. Ketika semua bergerak bersama, maka harapan melahirkan generasi sehat dan berkualitas akan lebih mudah diwujudkan,” tutupnya.
Melalui penguatan peran RDS, Pemerintah Nagari Panampuang berharap upaya pencegahan dan penanganan stunting dapat berjalan lebih terarah sehingga kualitas kesehatan generasi masa depan di nagari tersebut terus meningkat. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara