Mengenal Leworahang, Desa Wisata dengan Ritual Adat dan Panorama Alam Memikat

FLORES TIMUR Desa Wisata Leworahang di Kecamatan Lewolema, Kabupaten Flores Timur (Flotim), Nusa Tenggara Timur (NTT), menawarkan perpaduan wisata budaya, religi, dan alam yang masih terjaga hingga kini. Keunikan adat istiadat, keberadaan Gua Maria Wailaung, gereja tua, hingga berbagai ritual tradisional menjadi daya tarik yang mendukung kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara.

Desa Ilepadung yang secara kampung dikenal sebagai Leworahang merupakan salah satu dari tujuh desa di Kecamatan Lewolema. Wilayah ini berbatasan dengan perbukitan di bagian selatan, Laut Flores dan Teluk Hading di bagian utara, Desa Lewobele di sebelah barat, serta Desa Sinar Hading di sebelah timur.

Leworahang memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan asal-usul masyarakat setempat. Nama Ilepadung berasal dari nama gunung yang berada di kawasan tersebut dan diyakini sebagai tempat kelahiran leluhur pertama bernama Kuda Horok. Hingga saat ini, kehidupan sosial masyarakat masih berpegang teguh pada tradisi adat yang diwariskan secara turun-temurun.

Sebanyak 12 suku mendiami Kampung Leworahang. Di antaranya terdapat kelompok suku asli yang dikenal sebagai Raja Tuan, yakni Suku Ama Koten, Suku Ama Kelen (Lamakmau), Suku Ama Hurit, Suku Ama Maran, dan Suku Kajak. Kelompok ini memiliki peran penting dalam pengelolaan tanah adat serta pelaksanaan ritual penghormatan kepada leluhur.

Selain itu, terdapat sejumlah suku pendamping yang berfungsi mendukung peran Raja Tuan dalam berbagai kegiatan adat. Keberagaman suku tersebut membentuk kekayaan budaya yang masih dipertahankan melalui ritual, tradisi gotong royong, hingga sistem kekerabatan yang dikenal dengan sebutan Opun Pain Kakak Arin.

Tradisi kebersamaan masyarakat juga tercermin dalam budaya gotong royong yang terus dijalankan. Nilai-nilai tersebut melahirkan kesadaran akan pentingnya Hugo Ba’at Tonga Blola, yakni semangat persaudaraan, saling menghargai, dan saling membantu dalam kehidupan sehari-hari.

Keaslian budaya yang tetap terjaga menjadi salah satu faktor yang menarik minat wisatawan untuk berkunjung. Kehadiran wisatawan turut memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat yang mayoritas bekerja sebagai petani. Sebagaimana diberitakan Pos Kupang, Minggu (24/05/2026), kawasan ini juga dikenal sebagai wilayah dengan penduduk yang seluruhnya memeluk agama Katolik.

Selain wisata budaya, Leworahang memiliki sejumlah objek wisata unggulan seperti Kokor atau Korke, Sebu’a, Lango Bele, dan Kebang. Wisatawan juga dapat menikmati panorama pantai saat matahari terbenam, menyaksikan ritual Huke, mengunjungi Gua Maria Wailaung, Gereja Antonius Padua, menyaksikan prosesi adat perkawinan, kerajinan tenun ikat, upacara Hode Ilu atau ritual memohon hujan, hingga menikmati kuliner khas dan atraksi tari tradisional.

Keberadaan berbagai warisan budaya tersebut menjadi identitas masyarakat Leworahang yang terus dijaga dari generasi ke generasi sebagai bagian dari kekayaan budaya dan potensi wisata unggulan di Flotim. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Koperasi Desa Merah Putih Jadi Motor Baru Perekonomian Kampung di Papua

PDF 📄BIAK NUMFOR – Pembangunan Gerai Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih di Kampung Warsansan, Distrik …

Dugaan Penyerobotan Lahan Wakaf Hambat Pembangunan KDMP di Lembata

PDF 📄LEMBATA – Polemik pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Desa Rumang, Kecamatan Buyasuri, …

JBZ Jabar Dorong Generasi Muda Leuwimunding Peduli Lingkungan

PDF 📄MAJALENGKA – Upaya meningkatkan kepedulian generasi muda terhadap lingkungan terus diperkuat di Desa Leuwimunding, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *