Ipuk Pastikan Desa Tak Tertinggal Lewat Bunga Desa di Purwoharjo

BANYUWANGI – Program Bunga Desa (Bupati Ngantor di Desa) yang dijalankan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi kembali jadi sorotan karena dinilai makin memperkuat layanan publik hingga ke level desa, sekaligus membuka ruang cepat bagi warga menyampaikan persoalan mulai dari infrastruktur hingga ekonomi keluarga. Kegiatan terbaru digelar di Kecamatan Purwoharjo dengan menyasar tiga desa sekaligus, yakni Desa Kradenan, Desa Purwoharjo, dan Desa Glagahagung.

Agenda yang dikemas santai di sebuah warung kawasan hutan jati itu mempertemukan langsung Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani dengan warga, kepala desa, serta perangkat desa. Dalam forum tersebut, beragam isu langsung “naik meja” tanpa perantara, mulai dari kesiapan menghadapi musim kemarau panjang akibat El Nino, kondisi jalan desa, sampai strategi pemberdayaan pemuda agar tidak terjebak pengangguran.

Kepala Desa Purwoharjo, Fauzi Amurullah, menyoroti ancaman kekeringan yang berpotensi mengganggu aktivitas warga. Sementara itu, Kepala Desa Glagahagung, Mimin Budiarti, memaparkan model pemberdayaan ekonomi berbasis desa yang menyasar lulusan sekolah menengah atas.

“Sebagai kepala desa, kami harus mampu menggali potensi pemuda kita agar taraf hidup mereka meningkat. Bagi yang sudah kuliah mungkin bisa mencari jalan sendiri, namun bagi yang lulusan SMA, kami arahkan ke pemberdayaan produktif seperti ternak kambing dan pertanian buah naga,” ujar Mimin pada Jumat 30/4/2026.

“Alhamdulillah, sudah ada bukti nyata di Glagahagung. Anak yang awalnya kesulitan ekonomi, kini bisa lanjut kuliah berkat program ternak ini,” ungkapnya.

Ipuk menegaskan bahwa Bunga Desa bukan sekadar agenda seremonial, melainkan mekanisme cepat untuk memetakan kebutuhan riil warga desa sekaligus menguji efektivitas kebijakan di lapangan.

“Ada yang langsung bisa kami eksekusi, ada juga yang penyelesaiannya secara bertahap. Sebaliknya juga, dengan bertatap langsung seperti ini memudahkan kami dalam menjelaskan kebijakan pemkab,” jelas Ipuk sebagaimana diwartakan BanyuwangiHits pada Kamis (30/04/2026).

Selain dialog, Pemkab Banyuwangi juga membawa layanan terpadu ke desa, mulai dari kesehatan, pendidikan, sosial, hingga pemberdayaan ekonomi. Di Desa Kradenan, kegiatan diawali dengan sarasehan kesehatan mental yang diikuti sekitar 120 peserta dengan menghadirkan psikiater, serta layanan pemeriksaan penyakit dalam gratis dari dokter spesialis obstetri dan ginekologi (SpOG) dan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah (SpJP).

Ipuk juga meninjau langsung warga yang mengalami kelumpuhan akibat terjatuh dari pohon, sekaligus menginstruksikan pendampingan terapi rutin melalui pemerintah desa dan puskesmas setempat. Pola layanan jemput bola ini disebut menjadi strategi agar warga desa tidak lagi harus menunggu akses ke fasilitas kesehatan atau administrasi di kota. Dampaknya, desa didorong lebih mandiri, responsif, dan adaptif menghadapi situasi krisis maupun kebutuhan harian warganya. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Dari Desa untuk Ekonomi, Jembatan Presisi Kuansing Terus Dikebut

PDF đź“„KUANSING – Upaya percepatan pembangunan infrastruktur di wilayah pedesaan terus didorong Kepolisian Resor (Polres) …

Jembatan Hampir Ambruk, Warga Minta Pemerintah Segera Bertindak

PDF đź“„PANDEGLANG – Warga dua desa di Kabupaten Pandeglang terpaksa mempertaruhkan keselamatan setiap hari saat …

Setelah Penantian Panjang, Warga Sungai Jeruju Akhirnya Nikmati Listrik

PDF đź“„OKI – Akses listrik akhirnya menjangkau Desa Sungai Jeruju, Kecamatan Cengal, Kabupaten Ogan Komering Ilir …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *