PANDEGLANG – Warga dua desa di Kabupaten Pandeglang terpaksa mempertaruhkan keselamatan setiap hari saat melintasi jembatan gantung Cikuya yang rusak berat, bahkan sebagian bantalan kini diganti menggunakan pelepah kelapa sebagai solusi darurat.
Jembatan gantung yang berada di Kampung Pamunuhan, Desa Cikuya, Kecamatan Sukaresmi ini menjadi akses vital penghubung Desa Cikuya dengan Desa Tegalpapak, Kecamatan Pagelaran. Kondisi jembatan yang membentang sekitar 60 meter itu dilaporkan telah lama mengalami kerusakan tanpa perbaikan dari pihak terkait.
Kerusakan terjadi pada bantalan kayu yang telah lapuk serta besi penyangga yang mulai patah. Meski demikian, warga tetap menggunakan jembatan tersebut karena menjadi jalur terdekat menuju sekolah, lahan pertanian, hingga akses ke jalan nasional Labuan–Sumur.
Camat Sukaresmi, Tatang Fauzi, mengakui kondisi jembatan sudah sangat mengkhawatirkan dan berisiko bagi keselamatan warga.
“Jembatan gantung ini menghubungkan dua desa menuju jalan nasional. Antara Desa Cikuya menuju Desa Tegalpapak, Kecamatan Pagelaran,” katanya sebagaimana dilansir Radar Banten, Sabtu (02/05/2026).
Ia menambahkan, fungsi jembatan tersebut sangat penting bagi aktivitas masyarakat sehari-hari, terutama dalam sektor pendidikan dan pertanian.
“Terutama untuk pendidikan, banyak anak sekolah, kemudian akses pertanian juga. Namun saat ini dalam kondisi sangat mengkhawatirkan,” katanya.
Menurutnya, warga telah berulang kali melakukan perbaikan secara swadaya, termasuk mengganti bantalan dengan material seadanya.
“Tentunya kami mohon Pemerintah Pusat maupun provinsi dan juga kabupaten, mohon ini menjadi skala prioritas dibangun di tahun 2026 ini. Karena ini kami sudah usulkan ke kabupaten maupun ke provinsi, mudah-mudahan ini segera dibangun,” katanya.
Ia juga mengingatkan potensi bahaya yang mengintai jika jembatan terus digunakan tanpa perbaikan menyeluruh.
“Apabila melihat kondisi jembatan ini hampir terputus karena memang sudah rusak parah. Dan, berisiko mungkin saja menyebabkan kecelakaan, tapi mudah-mudahan itu tidak terjadi,” katanya.
Tatang berharap perbaikan segera dilakukan agar warga tidak lagi bergantung pada solusi darurat yang rawan risiko.
“Semoga saja pada tahun ini dapat ditangani. Agar masyarakat dapat melintas dengan aman dan nyaman,” katanya.
Kondisi ini mencerminkan keterbatasan infrastruktur di wilayah pedesaan yang masih bergantung pada upaya swadaya warga, sekaligus menegaskan urgensi pembangunan jembatan permanen untuk menjamin keselamatan dan kelancaran aktivitas masyarakat. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara