MUSI RAWAS – Kerusakan tanggul di Desa Sukorejo kembali terjadi dan berdampak luas terhadap sektor pertanian, dengan total 417 hektare lahan sawah di tiga desa terancam terganggu akibat jebolnya infrastruktur pengendali air tersebut.
Peristiwa jebolnya tanggul terjadi di Desa Sukorejo, Kecamatan STL Ulu Terawas, Kabupaten Musi Rawas, sekitar dua pekan lalu saat hujan deras mengguyur wilayah tersebut. Kerusakan ini menjadi kali kedua setelah sebelumnya tanggul sempat diperbaiki secara darurat menggunakan drum bekas.
Kepala Badan Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan STL Ulu Terawas, Sukimin, mengungkapkan bahwa kondisi tersebut berpotensi memengaruhi produktivitas pertanian warga di tiga desa terdampak, yakni Sukorejo, Srimulyo, dan Suka Karya.
“Tanggul jebol 2 minggu lalu saat hujan deras,” ungkapnya sebagaimana diberitakan Koranlinggaupos, Ahad, (26/04/2026).
Ia menjelaskan, panjang tanggul yang rusak mencapai sekitar 20 meter. Dampaknya, sebanyak 417 hektare lahan persawahan terancam, dengan rincian 200 hektare di Sukorejo yang dikelola delapan kelompok tani, 142 hektare di Srimulyo oleh enam kelompok tani, serta 75 hektare di Suka Karya dengan tiga kelompok tani.
Menurut Sukimin, meskipun dampak langsung belum terasa signifikan karena masih berada pada musim hujan, potensi kerugian tetap mengintai jika kondisi ini tidak segera ditangani.
“Kalau sekarang belum terasa dampaknya karena masih ada hujan,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya perbaikan permanen pada tanggul agar kejadian serupa tidak terus berulang dan merugikan petani.
“Kami berharap segera diperbaiki. Harusnya di dam, kalau diperbaiki darurat tidak tahan lama,” jelasnya.
Kondisi ini juga terjadi di tengah fase pertumbuhan tanaman padi yang sedang berlangsung, di mana sebagian besar lahan berada pada usia tanam 15 hingga 35 hari. Sementara itu, beberapa wilayah lain bahkan sudah memasuki masa panen dan penyerapan gabah oleh Perum Bulog (Badan Urusan Logistik).
Jika tidak segera ditangani secara serius, kerusakan tanggul berpotensi mengganggu siklus produksi pangan di wilayah tersebut serta berdampak pada ketahanan pangan lokal. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara