LEBANON SELATAN – Desa Adchit al-Qusayr di perbatasan Lebanon Selatan kembali menjadi sorotan setelah serangkaian insiden konflik pada akhir Maret 2026 menewaskan prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), memperlihatkan betapa kawasan kecil ini tetap berada dalam pusaran ketegangan geopolitik regional.
Pada Minggu (29/03/2026) dan Senin (30/03/2026), tiga prajurit TNI dilaporkan gugur dalam dua insiden berbeda saat menjalankan tugas bersama Pasukan Interim Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (United Nations Interim Force in Lebanon/UNIFIL). Dua prajurit meninggal akibat ledakan yang menghantam konvoi logistik, sementara satu lainnya gugur sehari sebelumnya akibat serangan artileri di wilayah Adchit al-Qusayr.
Peristiwa tersebut kembali menegaskan posisi strategis desa yang terletak di Distrik Marjeyoun, Kegubernuran Nabatieh, dekat perbatasan Israel. Lokasi yang berada pada ketinggian sekitar 350 hingga 400 meter di atas permukaan laut menjadikan kawasan ini sebagai titik pengawasan penting dalam berbagai fase konflik di Lebanon Selatan.
Sejarah panjang wilayah ini mencatat bahwa Adchit al-Qusayr telah lama berada dalam tekanan keamanan, terutama selama pendudukan Israel pada 1982 hingga 2000. Wilayah ini termasuk dalam sektor timur yang oleh UNIFIL disebut sebagai zona dengan dinamika keamanan paling kompleks.
“Desa ini sulit dilupakan rakyat Indonesia karena tiga prajurit TNI gugur saat menjalankan misi perdamaian bersama PBB di Lebanon Selatan,”
Selain aspek militer, desa ini juga memiliki nilai historis dan sosial yang kuat. Dalam buku A Dictionary of the Names of Towns and Villages in Lebanon karya Anis Frayha, disebutkan bahwa nama Adchit berasal dari bahasa Syriac yang berarti tempat pertemuan, sedangkan Al-Qusayr dalam bahasa Arab berarti benteng kecil.
Dari sisi sosial, kawasan ini dikenal sebagai bagian dari Jabal Amel yang menjadi pusat aktivitas intelektual komunitas Syiah di Lebanon Selatan. Catatan Muhammad Jaber Al-Safa menunjukkan bahwa wilayah ini telah lama berkembang sebagai basis pendidikan dan kehidupan religius masyarakat setempat.
Dampak konflik juga masih membekas, terutama sejak Perang Lebanon 2006 atau Perang Juli yang menyebabkan kerusakan infrastruktur akibat serangan udara di sekitar Sungai Litani. Sejumlah warga sempat mengungsi sebelum kembali setelah kondisi relatif stabil.
Di tengah tekanan tersebut, kehidupan ekonomi masyarakat tetap bertumpu pada sektor pertanian tradisional seperti zaitun dan tembakau. Selain itu, migrasi tenaga kerja ke berbagai negara menjadi strategi bertahan hidup, dengan diaspora tetap berkontribusi melalui investasi di kampung halaman.
Ketahanan sosial masyarakat diperkuat oleh ikatan keluarga dan aktivitas keagamaan yang menjadi fondasi kehidupan komunitas. Kondisi ini menjadikan Adchit al-Qusayr sebagai contoh bagaimana desa kecil mampu bertahan di tengah dinamika konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara