MOJOKERTO – Keberhasilan Desa Wisata Ketapanrame di Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto (Mojokerto), Jawa Timur, menjadi contoh nyata pembangunan desa berbasis pemberdayaan masyarakat. Melalui penguatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), investasi warga, serta pendampingan berkelanjutan dari Bank Indonesia (BI), desa tersebut mampu membangun ekosistem wisata dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang berdampak langsung terhadap peningkatan ekonomi masyarakat.
Transformasi desa itu tidak hanya terlihat dari berkembangnya sektor pariwisata, tetapi juga dari meningkatnya keterlibatan warga dalam pengelolaan aset desa dan berbagai unit usaha produktif. Model pengembangan tersebut kini dinilai layak menjadi inspirasi bagi daerah lain, termasuk Kota Balikpapan, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), dan Kabupaten Paser di Kalimantan Timur (Kaltim).
Kepala Desa (Kades) Ketapanrame, Zainul Arifin, menjelaskan kondisi desanya sebelum pengembangan wisata dilakukan masih menghadapi berbagai keterbatasan sosial dan ekonomi.
“Sebelum tahun 2010, ekonomi masyarakat desa kami kurang bagus, tingkat pendidikan dan kesehatan juga masih rendah, sehingga potensi desa belum banyak memberikan manfaat bagi warga,” ujar Zainul Arifin, Kamis (22/5/2026).
Menurutnya, salah satu strategi utama yang diterapkan adalah menyerahkan pengelolaan aset desa kepada BUMDes agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat. Aset tersebut kemudian dikembangkan untuk sektor wisata, pengelolaan sampah, peternakan komunal, hingga layanan air bersih.
Untuk memperkuat pembiayaan pembangunan, pemerintah desa juga mengembangkan skema investasi berbasis masyarakat melalui program urun dana. Melalui pola tersebut, warga dapat menjadi investor lokal dalam pembangunan wahana wisata dan memperoleh pembagian keuntungan secara berkala.
Salah satu destinasi yang menjadi penggerak ekonomi desa adalah Wisata Sawah Sumber Gempong. Kawasan tersebut menawarkan berbagai wahana rekreasi, mulai dari kereta sawah, sepeda terbang, becak terbang, all terrain vehicle (ATV), kuda tunggang, hingga paket outbound yang menarik wisatawan keluarga maupun rombongan pendidikan.
Perkembangan sektor wisata juga didukung pendampingan BI Surabaya yang tidak hanya berfokus pada promosi destinasi, tetapi juga pengembangan produk unggulan desa berbasis kopi.
“BI hadir mendampingi kami mulai dari penanaman, perawatan, pengolahan sampai pemasaran kopi. Bahkan mendatangkan buyer dari luar negeri untuk melihat produk kami,” katanya, sebagaimana diberitakan Satu Indonesia, Jumat, (22/05/2026).
Pendampingan tersebut mencakup fasilitasi legalitas usaha, sertifikasi halal berstandar internasional, pembentukan badan usaha berbentuk perseroan, hingga promosi melalui berbagai pameran dan festival. Hasilnya, produk kopi dan berbagai olahan UMKM Ketapanrame mulai menembus pasar luar negeri.
Keberhasilan pengembangan desa wisata itu juga ditopang kolaborasi antara pemerintah daerah, kementerian, media, serta partisipasi aktif masyarakat. Ketapanrame bahkan berhasil meraih predikat Desa Wisata Terbaik Nasional tahun 2023 dan BUMDes Terbaik Nasional kategori bermanfaat.
Zainul menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan desa tidak hanya diukur dari jumlah destinasi wisata yang dibangun, melainkan sejauh mana masyarakat ikut terlibat dan menikmati manfaat ekonominya.
“Yang paling penting bukan hanya membangun wisata, tetapi membangun ekosistem dan melibatkan masyarakat agar manfaat ekonominya bisa dirasakan bersama,” tegasnya.
Model pembangunan berbasis aset desa, penguatan kelembagaan BUMDes, partisipasi investasi masyarakat, serta pendampingan berkelanjutan dinilai menjadi formula yang dapat direplikasi oleh daerah lain yang memiliki potensi wisata dan UMKM lokal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi desa yang berkelanjutan. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara