TUBAN – Wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) kembali mengancam peternakan sapi di Desa Cepokorejo, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban, setelah sempat mereda. Sejumlah peternak melaporkan kematian mendadak pada sapi mereka, sementara respons dari pemerintah daerah dan dinas terkait masih minim, memaksa warga menanggung risiko sendiri.
Ambar, salah satu peternak di Cepokorejo, menceritakan, “Awalnya sakit, tidak nafsu makan, lalu tiba-tiba ambruk dan mati,” setelah empat sapinya mati beruntun sejak Lebaran, termasuk ternak yang dipersiapkan untuk dijual menjelang Iduladha. Kerugian yang dialami Ambar mencapai sekitar Rp30 juta, meski ia sudah mendatangkan dokter hewan untuk menangani sapi-sapinya.
Pantauan di lapangan menunjukkan kasus kematian sapi mendadak masih terus berlangsung. Para peternak terpaksa mengeluarkan biaya pribadi untuk mengobati ternak yang sakit, namun langkah ini belum mampu menghentikan kematian mendadak tersebut.
“Kalau dibiarkan, bisa jadi wabah lagi. Jujur, kami merasa tidak ada perhatian dari pemerintah,” ungkap Ambar dengan nada kecewa. Keluhan serupa muncul dari peternak lain yang juga menilai belum ada tindakan nyata dari pihak terkait meski situasi semakin mengkhawatirkan.
Hingga berita ini ditulis, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Peternakan (DKP2P) Tuban, Eko Julianto, belum memberikan tanggapan atas konfirmasi wartawan melalui panggilan telepon maupun pesan WhatsApp. Warga desa pun masih menunggu intervensi resmi untuk mencegah meluasnya wabah PMK. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara