SITUBONDO – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Situbondo terpaksa mengajukan bantuan anggaran ke pemerintah pusat setelah dana Belanja Tidak Terduga (BTT) habis digunakan untuk penanganan banjir yang merusak infrastruktur vital, termasuk jembatan penghubung antar desa.
Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo, menyampaikan bahwa kondisi tersebut membuat pemerintah daerah tidak lagi memiliki cadangan anggaran untuk memperbaiki kerusakan lanjutan akibat bencana yang terus berulang.
“Kita buat telaah, nanti kita ajukan ke pusat, karena banjir terus dan dana BTT kita sudah habis,” ujarnya.
Salah satu kerusakan paling krusial terjadi pada jembatan yang menghubungkan Desa Kotakan, Kecamatan Situbondo, dengan Desa Sliwung, Kecamatan Panji. Jembatan tersebut mengalami kerusakan parah akibat terjangan arus Sungai Sampean Baru yang membawa material bambu, lumpur, dan kayu dari wilayah hulu.
Tumpukan material tersebut memperbesar tekanan pada struktur jembatan, sementara intensitas hujan tinggi mempercepat pengikisan fondasi. Akibatnya, kondisi jembatan kini nyaris putus dan mengancam akses mobilitas warga.
Sebagai langkah darurat, Pemkab Situbondo berencana membangun jembatan bailey, yakni jembatan rangka baja ringan yang dapat dipasang secara cepat untuk memulihkan akses sementara. “Besok kita langsung bersurat karena kejadiannya baru terjadi sekarang,” tambahnya.
Sambil menunggu realisasi bantuan pusat, pemerintah daerah juga melakukan perbaikan sementara di sekitar jembatan serta mengajak masyarakat untuk bergotong royong membersihkan material yang menyumbat aliran sungai. “Kita lakukan perbaikan rutin di sisi jembatan sambil mengajukan ke pusat untuk pembangunan jembatan bailey di sini,” jelasnya.
Warga setempat berharap perbaikan segera dilakukan secara permanen. Salah satu warga, Fatima, menyebut jembatan tersebut merupakan jalur utama aktivitas sehari-hari. “Saya berharap jembatan ini diperbaiki seperti jembatan lainnya, sehingga meski banjir tetap bisa dilewati,” ujarnya.
Jika jembatan tidak segera diperbaiki, warga harus memutar melalui jalur alternatif yang lebih jauh dan memakan waktu lebih lama, sehingga berdampak pada aktivitas ekonomi dan sosial.
Ke depan, Pemkab Situbondo menilai perlu adanya langkah antisipasi jangka panjang seperti normalisasi sungai, pembangunan tanggul, serta penguatan sistem peringatan dini untuk mengurangi dampak banjir yang kerap terjadi di wilayah tersebut. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara