Disdikbud Kutim menilai pembelajaran tatap muka lebih optimal dibandingkan PJJ, tetapi pelaksanaannya masih menunggu perbaikan kondisi lingkungan dan hasil evaluasi Dinkes di sejumlah kecamatan.
ADVERTORIAL – Pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ) di Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur (Kaltim), menambah kesibukan orang tua yang harus mendampingi anak belajar di rumah. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim berharap kegiatan pembelajaran tatap muka (PTM) dapat segera dilaksanakan kembali apabila kondisi lingkungan dan kesehatan di sejumlah kecamatan dinyatakan membaik.
Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan dan Kebudayaan Kutim, Mulyono, mengakui bahwa kendala selama penerapan PJJ lebih banyak berkaitan dengan kesibukan orang tua dalam mendampingi anak dibandingkan dengan persoalan teknis pembelajaran.
Menurutnya, sejauh ini Disdikbud Kutim belum menerima keluhan khusus mengenai pelaksanaan kegiatan belajar mengajar secara jarak jauh. Meski demikian, aktivitas belajar dari rumah menuntut keterlibatan orang tua yang harus membagi waktu dengan pekerjaan dan kegiatan sehari-hari.
“Saya rasa perjalanan sampai hari ini tidak ada keluhan terkait pembelajaran. Yang ada mungkin kerepotan saja, karena anaknya harus belajar di rumah,” ungkapnya seusai membuka diskusi kelompok terpumpun atau focus group discussion (FGD) persiapan pembentukan dan pelantikan pengurus Asosiasi Guru Motivator Literasi Kutim di Pendopo Rumah Jabatan Bupati Kutim, Selasa (20/10/2026).
Mulyono menjelaskan, penerapan PJJ sebenarnya bukan pengalaman baru bagi sekolah, guru, maupun orang tua. Pengalaman selama pandemi penyakit koronavirus 2019 atau coronavirus disease 2019 (COVID-19) telah memberikan pemahaman mengenai pembagian tanggung jawab dalam mendukung proses pembelajaran dari rumah.
“PJJ ini sebenarnya bukan barang baru. Kita sudah punya pengalaman di Covid kemarin. Jadi sudah paham apa yang harus dilaksanakan oleh guru, sekolah, dan orang tua,” jelasnya.
Kendati demikian, Mulyono menilai kegiatan belajar secara langsung di sekolah tetap lebih optimal dibandingkan dengan pembelajaran jarak jauh. Interaksi antara guru dan siswa dinilai menjadi salah satu pertimbangan penting dalam mengembalikan kegiatan pendidikan ke ruang kelas.
“Kalau sudah semakin bagus, PTM lebih maksimal daripada PJJ,” tuturnya.
Keinginan untuk mengembalikan kegiatan belajar di sekolah tersebut masih menghadapi kendala kondisi lingkungan di sejumlah kecamatan. Sebagaimana diberitakan Media Kaltim, Selasa (20/10/2026), kualitas udara yang belum sepenuhnya pulih menjadi salah satu pertimbangan Disdikbud Kutim sebelum mengizinkan PTM kembali berlangsung.
Mulyono menyebut perkembangan kondisi di beberapa kecamatan mulai menunjukkan perbaikan. Namun, masih terdapat sejumlah wilayah yang memerlukan pemantauan sehingga pemerintah daerah belum dapat menetapkan waktu pemberlakuan kembali PTM.
Disdikbud Kutim terus melakukan evaluasi secara berkala dan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim untuk memperoleh informasi terbaru mengenai kondisi di lapangan.
Hasil evaluasi tersebut menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam menentukan apakah kegiatan pembelajaran dapat kembali dilaksanakan secara langsung atau masih harus berlangsung melalui PJJ.
“Mudah-mudahan kondisinya semakin membaik sehingga kita bisa segera melaksanakan pembelajaran tatap muka. Kalau lebih separuh, bisalah kita ambil sikapnya,” kata Mulyono.
Meski sejumlah wilayah menunjukkan perkembangan positif, Mulyono belum mengungkapkan kecamatan yang masih memerlukan perhatian khusus. Menurutnya, kondisi di lapangan dapat berubah sehingga setiap keputusan perlu mempertimbangkan hasil pemantauan terbaru.
Disdikbud Kutim diharapkan dapat segera memperoleh kepastian mengenai kondisi setiap wilayah agar kebijakan pembelajaran berikutnya dapat ditetapkan secara tepat.
Kembalinya kegiatan belajar ke sekolah diharapkan tidak hanya meningkatkan efektivitas pembelajaran dan interaksi antara guru dengan siswa, tetapi juga mengurangi beban pendampingan yang selama ini dihadapi orang tua selama pelaksanaan PJJ. Namun, keselamatan dan kesehatan peserta didik tetap menjadi pertimbangan utama sebelum PTM kembali diberlakukan. []
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara