CIAMIS – Tradisi Nyangku kembali menjadi ruang bagi masyarakat Desa Panjalu, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, untuk menjaga warisan budaya yang berkaitan dengan sejarah leluhur dan perkembangan Islam di wilayah tersebut. Puncak Nyangku Panjalu 2026 digelar Senin (07/09/2026) melalui kirab dan pencucian sejumlah benda pusaka yang selama ini disimpan di Bumi Alit.
Prosesi diawali dengan pengeluaran pusaka dari Pasucian Bumi Alit sekitar pukul 07.30 WIB. Benda-benda tersebut kemudian dikirab menuju kawasan Situ Lengkong dan Pulau Nusa Gede sebelum dibawa ke Taman Borosngora untuk menjalani prosesi pencucian sekitar pukul 09.30 WIB.
Sejumlah pusaka yang menjadi bagian dari tradisi tersebut antara lain pedang, cis, keris, bangreng, dan gong. Rangkaian kirab juga disertai ziarah ke makam leluhur Panjalu di Nusa Gede sebelum pusaka dikembalikan ke tempat penyimpanannya setelah prosesi pencucian selesai.
Nyangku tidak hanya berlangsung pada hari puncak. Pemerintah Desa (Pemdes) Panjalu mencatat rangkaian sebelumnya telah diisi Tradisi Samida sekitar sepekan sebelum acara utama, kemudian dilanjutkan dengan berbagai kegiatan kesenian, budaya, pengajian, dan doa bersama.
Sebagaimana diberitakan Lintas Priangan, Senin (07/09/2026), Upacara Adat Nyangku merupakan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Panjalu. Tradisi tersebut berkaitan dengan penghormatan terhadap pusaka leluhur sekaligus peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Pelaksanaan Nyangku secara tradisional berlangsung pada Senin atau Kamis terakhir bulan Maulud atau Rabiul Awal. Pada 2026, puncak tradisi tersebut bertepatan dengan 25 Rabiul Awal 1448 Hijriah.
Pencucian pusaka menjadi salah satu bagian utama dalam rangkaian Nyangku. Benda-benda pusaka dibersihkan menggunakan air yang telah dipersiapkan dari sejumlah sumber mata air. Setelah dibersihkan, pusaka dibungkus dan dikembalikan ke Bumi Alit.
Tradisi tersebut juga memiliki keterkaitan dengan sejarah Prabu Sanghyang Borosngora dan perkembangan Islam di Panjalu. Keberadaan pusaka dan rangkaian adat yang menyertainya menjadi bagian dari pengetahuan sejarah yang terus dipelihara oleh masyarakat setempat.
Pelaksanaan Nyangku melibatkan sesepuh, keturunan Kerajaan Panjalu, masyarakat, serta pihak terkait. Keterlibatan berbagai unsur tersebut membuat tradisi tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi sarana pewarisan nilai budaya kepada generasi berikutnya.
Dari sisi pariwisata, rangkaian Nyangku turut menjadi daya tarik bagi masyarakat yang ingin menyaksikan tradisi budaya Panjalu secara langsung. Pemdes Panjalu mengimbau pengunjung datang lebih awal karena kepadatan diperkirakan terjadi di sekitar lokasi pelaksanaan.
Pemdes Panjalu juga menyatakan perubahan jadwal akibat kondisi darurat atau cuaca ekstrem, apabila terjadi, akan diumumkan melalui kanal resmi desa. Hal itu menjadi bagian dari upaya memastikan pelaksanaan tradisi tetap menyesuaikan kondisi di lapangan.
Keberlanjutan Nyangku diharapkan dapat menjaga hubungan masyarakat Panjalu dengan sejarah leluhur sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya desa kepada masyarakat yang lebih luas. Dengan tetap mempertahankan rangkaian adatnya, tradisi tersebut menjadi salah satu penanda identitas budaya Panjalu dari generasi ke generasi. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara