Festival Natar Sikka Perkuat Pelestarian Tradisi dan Wisata Budaya

SIKKA – Festival Natar Sikka 2026 kembali menjadi ajang pelestarian warisan budaya di Desa Sikka, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan menampilkan kekayaan tradisi yang merekam hubungan sejarah masyarakat Sikka dan Portugal selama lebih dari 400 tahun. Kegiatan yang digelar pada Rabu (22/7/2026) itu juga memperkuat promosi budaya dan pariwisata daerah.

Festival yang memasuki penyelenggaraan kelima tersebut berlangsung di halaman Kantor Desa Sikka, di sisi utara kompleks Gereja St. Ignasius Loyola dan Pastoran Paroki Sikka. Mengusung tema Perayaan Budaya Rakyat Sikka dan Portugis, festival menghadirkan beragam pertunjukan seni yang melibatkan masyarakat serta pelajar setempat.

Salah satu atraksi utama ialah Sendratari Toja Bobu yang telah diwariskan secara turun-temurun sejak masa interaksi masyarakat Sikka dengan bangsa Portugal. Selain itu, pengunjung juga disuguhi Tari Tuku Tena, Tari Jata Kapa, peragaan busana, hingga berbagai tari kreasi dan kontemporer yang dibawakan siswa dari sejumlah sekolah.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten (Kadisparbud) Sikka, Mauritius Minggo, yang membuka festival mewakili Bupati Sikka, mengatakan pemerintah daerah memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan Festival Natar Sikka sebagai upaya menjaga identitas budaya sekaligus memperkenalkan sejarah daerah kepada masyarakat luas.

“Festival ini bukan sekadar pertunjukan seni budaya dan hiburan semata, tetapi menjadi ruang untuk merawat jati diri, memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada dunia, sekaligus membangun persahabatan antarbangsa,” kata Mauritius Minggo, sebagaimana diberitakan Flores Terkini, Jumat (24/07/2026).

Ia menjelaskan Kampung Sikka masih menyimpan berbagai jejak sejarah penting, mulai dari Gereja St. Ignasius Loyola, peninggalan Kerajaan Sikka, hingga tradisi budaya yang tetap dijaga masyarakat. Menurutnya, Festival Natar Sikka menjadi pengingat bahwa hubungan sejarah antara masyarakat Sikka dan Portugal tidak hanya tercermin melalui bangunan bersejarah, tetapi juga terus hidup melalui seni dan tradisi.

“Warisan lima abad yang terjaga menjadi jembatan spiritual dan budaya yang sakral serta menjadi saksi perjalanan sejarah dan iman yang tetap hidup hingga kini,” ujarnya.

Pada penyelenggaraan tahun ini, panitia semula menjadwalkan kehadiran kelompok tari asal Portugal, Viras do Tio Xico. Namun, rombongan beranggotakan 23 orang tersebut belum dapat tiba sesuai jadwal setelah penerbangan dari Kupang menuju Larantuka dibatalkan akibat erupsi Gunung Lewotobi. Panitia kemudian mengalihkan perjalanan melalui Ende dan menjadwalkan kedatangan mereka pada Jumat (24/7/2026) untuk tampil di halaman Gereja St. Ignasius Loyola Sikka.

Festival Natar Sikka pertama kali digelar pada 2022 melalui kolaborasi Karang Taruna Nibong Sikka dan Pemerintah Desa (Pemdes) Sikka. Sejak itu, festival berkembang menjadi agenda budaya tahunan yang mengangkat identitas sejarah sekaligus mempererat hubungan budaya antara masyarakat Sikka dan Portugal. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Mahasiswa UGM Gandeng Desa Atasi Persoalan Sampah Bertahun-Tahun

PDF đź“„MAMUJU – Pengelolaan sampah menjadi fokus utama program Kuliah Kerja Nyata–Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) …

Pemkab Banyuwangi Tampung Ide Anak untuk Kebijakan Lingkungan

PDF đź“„BANYUWANGI – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi menjadikan aspirasi puluhan pelajar sebagai bahan penyusunan kebijakan …

Pengelolaan Sampah Desa Jatiarjo Diperkuat Lewat Mini Insinerator

PDF đź“„PASURUAN – Upaya mengatasi persoalan sampah rumah tangga di Dusun Cowek, Desa Jatiarjo, Kecamatan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *