JAKARTA – PT Pertamina (Persero) memperluas implementasi Sustainable Development Goals (SDGs) melalui pengembangan 262 Desa Energi Berdikari di berbagai wilayah Indonesia. Program berbasis masyarakat tersebut dirancang untuk memperkuat kemandirian energi sekaligus menciptakan nilai ekonomi yang berkelanjutan melalui pemanfaatan energi baru terbarukan.
Program Desa Energi Berdikari dikembangkan dengan tiga pendekatan utama, yakni meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap potensi energi lokal, memberikan edukasi mengenai pemanfaatannya, serta mengembangkan aktivitas ekonomi berbasis energi terbarukan. Hingga kini, desa-desa tersebut memanfaatkan beragam sumber energi, mulai dari biogas, gas metana dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA), Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), hingga Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH).
Sekretaris Perusahaan (Corporate Secretary) PT Pertamina (Persero), Arya Dwi Paramita, mengatakan implementasi SDGs di lingkungan perusahaan tidak hanya diwujudkan melalui pelestarian lingkungan, tetapi juga dengan membangun kemandirian energi masyarakat yang mampu meningkatkan kesejahteraan.
“Yang membuat ini semua sustainable, ujung-ujungnya adalah ini harus berdampak ekonomi. Jadi bagaimana masyarakat bisa menemukan potensi energi yang dimiliki, menggunakannya, dan pada akhirnya menciptakan nilai ekonomi dari energi tersebut,” ujar Arya dalam sesi Mitigasi Bencana dan Pemulihan Berbasis Pemberdayaan Masyarakat (Disaster Mitigation & Community-Empowered Recovery) pada Lestari Summit 2026 di Jakarta, sebagaimana diberitakan Global Energi, Kamis (23/07/2026).
Menurut Arya, pengembangan Desa Energi Berdikari juga berkontribusi terhadap peningkatan ketahanan masyarakat saat menghadapi bencana. Karena itu, setiap desa dibangun berdasarkan potensi dan kebutuhan masing-masing wilayah agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal.
Selain sektor energi, program tersebut turut mendukung ketahanan pangan. Sebanyak 153 Desa Energi Berdikari difokuskan pada pengembangan sektor pangan dan telah menghasilkan tambahan produksi sekitar 15.000 ton dari lahan yang sebelumnya belum produktif.
Salah satu implementasi program berada di Dusun Bondan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Melalui pemanfaatan panel surya, masyarakat pesisir yang sebelumnya belum menikmati akses listrik kini dapat mengoperasikan fasilitas penyimpanan dingin (cold storage) untuk menjaga kualitas hasil tangkapan nelayan sehingga memiliki nilai jual lebih tinggi. Pertamina juga memasang sistem peringatan dini (early warning system) berbasis Internet untuk Segala (Internet of Things/IoT) guna meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap potensi bencana.
Arya menegaskan bahwa keberhasilan implementasi SDGs tidak hanya diukur dari aspek lingkungan, tetapi juga dari manfaat sosial dan ekonomi yang diterima masyarakat.
“Sustainability itu bukan masalah menanam pohon, mendonasikan sedekah atau yang lainnya. Tidak hanya sebatas itu. Tetapi sustainability ini harus tumbuh bersama,” tutup Arya. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara