BOJONEGORO – KDMP Pungpungan Dorong Produk Warga Masuk Pasar Koperasi Desa Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Pungpungan di Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, masih berupaya memperluas perannya sebagai wadah pemasaran produk masyarakat desa. Hingga kini, kendala perizinan membuat sejumlah produk lokal warga belum dapat masuk ke etalase koperasi.
Dari 18 desa yang berada di Kecamatan Kalitidu, baru enam desa yang koperasinya telah beroperasi, yakni Desa Pungpungan, Pilangsari, Grebekan, Leran, Ngringinrejo, dan Mojo. Namun, aktivitas penjualan di KDMP Pungpungan masih didominasi komoditas subsidi pemerintah seperti beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta MinyaKita.
Kasir KDMP Pungpungan, Deni, mengatakan produk olahan masyarakat seperti Telur Gayatri belum dapat dipasarkan karena harus melalui proses persetujuan dari pengelola pusat, Agrinas.
“Yang paling dibutuhkan warga selama ini memang beras dan MinyaKita. Untuk Telur Gayatri belum bisa masuk karena produk lokal yang dialokasikan ke KDMP harus mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari Agrinas,” ujar Deni, sebagaimana diberitakan Suara Bangsa, Kamis (23/7/2026).
Selain persoalan izin produk, KDMP Pungpungan juga menghadapi kendala distribusi barang. Proses pengajuan Purchase Order (PO) yang membutuhkan waktu cukup lama menyebabkan beberapa stok barang mengalami kekosongan sebelum pasokan baru tiba.
Saat ini, KDMP Pungpungan memiliki enam pengurus yang terdiri atas wakil manajer, dua operator pencatatan barang, serta dua kasir. Para pengurus tersebut mendapatkan gaji dari Agrinas, meski sebagian masih belum mengetahui secara rinci mengenai kontrak kerja yang berlaku.
Dalam operasional harian, pencatatan barang masuk dan keluar dilakukan melalui sistem situs web terintegrasi. Petugas Agrinas juga melakukan pemeriksaan stok secara berkala setiap pekan. Dari kegiatan tersebut, KDMP Pungpungan mencatat omzet rata-rata sekitar Rp15 juta per bulan.
Kepala Desa Pungpungan, Slamet Hari Hadi, menyebut selain Telur Gayatri, masyarakat juga memiliki produk inovasi berbahan dasar waluh atau labu kuning yang berpotensi dikembangkan melalui koperasi desa.
Menurut Slamet, keberadaan KDMP akan memberikan dampak lebih besar apabila seluruh komoditas subsidi pemerintah dan produk unggulan masyarakat dapat dipasarkan secara bersamaan.
“Saat ini yang baru bisa dijual di KDMP memang baru beras subsidi dan MinyaKita, komoditas lain belum masuk. Namun, jika semua barang subsidi dan produk warga bisa masuk, saya yakin KDMP tahun depan dapat berkembang pesat. Apalagi setelah mendapat arahan dari Kementerian Koperasi di Jakarta beberapa waktu lalu,” pungkas Slamet.
Penguatan peran KDMP diharapkan tidak hanya menjadi pusat distribusi kebutuhan masyarakat, tetapi juga mampu membuka akses pasar bagi produk lokal desa sehingga mendorong kemandirian ekonomi warga secara berkelanjutan. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara