NGAWI – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) kelompok 17 Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya bersama masyarakat Desa Sekaralas, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, membuat lubang biopori sebagai upaya mengatasi persoalan sampah organik sekaligus meningkatkan kemampuan tanah menyerap air hujan.
Program yang dilaksanakan pada Rabu (8/7/2026) tersebut mengangkat tema kesehatan lingkungan dengan memanfaatkan sampah organik rumah tangga sebagai bahan dasar pembuatan pupuk kompos. Kegiatan ini menjadi bagian dari pengabdian mahasiswa dalam mendorong kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan.
Lubang biopori merupakan metode resapan air dengan membuat lubang vertikal di dalam tanah yang kemudian diisi sampah organik seperti daun kering dan sisa makanan. Sampah tersebut akan mengalami proses penguraian alami sehingga menghasilkan kompos yang dapat dimanfaatkan kembali.
Melalui metode sederhana tersebut, masyarakat Desa Sekaralas dapat memperoleh dua manfaat sekaligus, yaitu mengurangi penumpukan sampah organik dan membantu meningkatkan cadangan air tanah melalui penyerapan air hujan.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKN memberikan edukasi sekaligus praktik langsung mengenai tahapan pembuatan biopori kepada warga. Proses dimulai dengan menentukan lokasi pembuatan lubang, membuat lubang pada tanah, memasukkan pipa atau wadah berlubang, mengisi bagian dalam dengan sampah organik, kemudian menutupnya agar tetap aman.
Setelah proses tersebut dilakukan, sampah organik perlu ditambahkan secara berkala hingga berubah menjadi pupuk kompos yang dapat digunakan untuk tanaman.
Mahasiswa KKN 17 Sekaralas menjelaskan bahwa program ini tidak hanya bertujuan memperkenalkan teknologi sederhana pengelolaan lingkungan, tetapi juga membangun kebiasaan masyarakat dalam menjaga kebersihan dari tingkat rumah tangga.
Antusiasme masyarakat terlihat saat warga mengikuti sosialisasi dan praktik pembuatan biopori. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat memperoleh pemahaman mengenai pentingnya memilah serta mengelola sampah organik sejak dari sumbernya.
Penerapan biopori di Desa Sekaralas diharapkan mampu memberikan manfaat jangka panjang. Semakin banyak lubang biopori yang dibuat, semakin besar kemampuan tanah dalam menyerap air hujan sehingga dapat membantu mengurangi risiko genangan serta menjaga ketersediaan air tanah.
Selain itu, kompos yang dihasilkan dari proses penguraian sampah organik dapat dimanfaatkan sebagai pupuk alami untuk tanaman pekarangan maupun lahan pertanian masyarakat.
Program ini juga menunjukkan bahwa menjaga lingkungan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah desa, masyarakat, hingga mahasiswa sebagai penggerak perubahan. Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya lingkungan sehat.
Sebagaimana diberitakan Kompasiana, Kamis (9/7/2026), kegiatan pembuatan biopori di Desa Sekaralas menjadi contoh bahwa langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat memberikan dampak positif terhadap keberlanjutan lingkungan.
Melalui program tersebut, masyarakat Desa Sekaralas diharapkan dapat terus mengembangkan kebiasaan pengelolaan sampah organik dan memperluas penerapan biopori sebagai solusi sederhana untuk menjaga keseimbangan lingkungan. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara