SEMARANG – Pengembangan pertanian organik di Desa Ketapang, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang terus menunjukkan hasil positif. Berawal dari gerakan pemberdayaan petani, kini sistem budidaya ramah lingkungan tersebut telah berkembang ke sembilan desa di tiga kecamatan, sekaligus meningkatkan produktivitas pertanian, kesejahteraan petani, dan menjaga kelestarian lingkungan.
Gerakan tersebut dipelopori Ketua Paguyuban Petani Albarokah, Mustofa, yang sejak 1998 konsisten mengajak petani mengurangi ketergantungan terhadap pupuk dan pestisida sintetis. Upaya tersebut mendorong petani memproduksi pupuk, benih, dan nutrisi tanaman secara mandiri sehingga biaya produksi lebih efisien dan keberlanjutan usaha tani semakin terjaga.
Menurut Mustofa, pertanian organik merupakan jalan untuk membangun kemandirian petani. “Melalui pertanian organik, petani dapat berdiri sendiri memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa bergantung pada pihak lain.”
Ia juga menyampaikan harapan agar gerakan tersebut terus berkembang. “Harapan kami, kelak mampu mewujudkan swasembada padi organik,” ujarnya. Pernyataan tersebut sebagaimana diberitakan Suara Merdeka, Kamis (09/07/2026).
Perkembangan pertanian organik di Desa Ketapang mendapat dukungan berbagai pihak, termasuk Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Semarang melalui Lembaga Pengembangan Pertanian (LPP) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Semarang. Organisasi tersebut aktif mengajak petani, generasi muda, hingga mahasiswa untuk mempelajari budidaya organik melalui pelatihan, diskusi, dan praktik lapangan.
Keberhasilan sistem budidaya tersebut turut diperkuat dukungan Bank Indonesia (BI) berupa pelatihan, penguatan kelembagaan, bantuan peralatan, teknologi, serta pengembangan sumber daya manusia. Salah satu inovasi yang diterapkan ialah teknologi smart farming yang mampu memantau kondisi tanah, udara, dan lingkungan pertanian secara real time, kemudian mengirimkan data ke telepon pintar petani sehingga keputusan budidaya dapat dilakukan lebih cepat dan tepat.
Saat ini, jumlah petani binaan Paguyuban Petani Albarokah meningkat dari 360 orang di enam desa menjadi 574 petani yang tersebar di sembilan desa di Kecamatan Susukan, Kaliwungu, dan Suruh. Komoditas yang dikembangkan meliputi padi organik putih, merah, hitam, serta berbagai jenis kacang-kacangan.
Keberhasilan tersebut turut dibuktikan melalui panen raya padi organik varietas hitam arang dengan produktivitas mencapai 8,14 ton per hektare berdasarkan pengukuran ubinan. Momentum itu juga menjadi awal peluncuran program pengembangan 100.000 hektare lahan padi organik oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Semarang.
Bupati Semarang Ngesti Nugraha menilai pertanian organik memiliki nilai ekonomi yang terus meningkat seiring bertambahnya permintaan pasar. Selain meningkatkan pendapatan petani, sistem tersebut juga mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan, memperkuat ketahanan pangan, serta menjaga kualitas tanah dan lingkungan.
Atas keberhasilannya, Mustofa menerima berbagai penghargaan tingkat nasional, termasuk penghargaan dari Presiden Joko Widodo melalui BI Award Klaster Terbaik Pendukung Ketahanan Pangan dalam Rangka Pengendalian Inflasi Sub Sektor Tanaman Pangan serta penghargaan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atas dedikasinya mengembangkan pertanian organik. Kini, Desa Ketapang juga menjadi tujuan studi banding berbagai daerah yang ingin mengembangkan sistem pertanian ramah lingkungan. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara