Jantra Tradisi PKB 2026 Kenalkan Permainan Leluhur kepada Anak-Anak

DENPASAR – Dinas Kebudayaan (Disbud) Bali memanfaatkan ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 untuk menghidupkan kembali permainan tradisional anak sebagai bagian dari upaya menjaga warisan budaya agar tetap dikenal generasi muda. Berbagai permainan rakyat diperkenalkan dan diperlombakan sebagai media pelestarian budaya yang diwariskan sejak masa lampau.

Kepala Bidang (Kabid) Tradisi Warisan Budaya Disbud Bali I Putu Sutaryana mengatakan permainan yang ditampilkan dalam sesi Jantra Tradisi Bali meliputi metajog, terompah, gala-gala atau hadang, serta permainan tradisional kelik-kelikan dari Kabupaten Bangli. Menurutnya, pemilihan permainan tersebut sejalan dengan tema PKB tahun ini, Atma Kerthi, yang bermakna penyucian jiwa melalui pelestarian budaya.

“Kita kembangkan lagi budaya ini, kita gali lagi seni yang ada di Bali, maka kita perlu lestarikan warisan-warisan budaya melalui lomba yang seperti sekarang ini,” kata Sutaryana, sebagaimana dilansir Antara, Kamis (02/07/2026).

Ia menambahkan permainan tradisional merupakan bagian dari identitas budaya yang telah dikenal sejak masa kerajaan di Bali. Karena itu, pengenalan kembali kepada anak-anak diharapkan dapat mencegah permainan tersebut hilang ditelan perkembangan zaman.

“Ini permainan budaya kita, kan sejak zaman kerajaan-kerajaan kita dari dulu memang mengenal budaya ini, sekarang kita kembangkan lagi ingatkan kepada generasi muda agar tidak dilupakan budaya-budaya ini,” ujarnya.

Disbud Bali mengakui pelaksanaan lomba permainan tradisional masih menghadapi tantangan, terutama keterbatasan anggaran di sejumlah pemerintah kabupaten/kota. Setiap cabang permainan membutuhkan banyak peserta sehingga memerlukan dukungan biaya selama proses latihan hingga pelaksanaan lomba. Kondisi tersebut membuat tidak semua daerah mampu mengikuti seluruh rangkaian Jantra Tradisi Bali.

Sementara itu, Pembina Komunitas Sanggar Seni Suradiva I Ketut Gede Agus Adi Saputra menjelaskan sanggarnya membawa sekitar 40 anak untuk menampilkan permainan kelik-kelikan, permainan rakyat yang berasal dari Desa Sulahan, Kabupaten Bangli.

Permainan tersebut mengisahkan masyarakat desa yang mengalami kekeringan dan memperebutkan sumber mata air dengan burung kekelik. Dalam cerita itu, burung goak membantu masyarakat dengan mengusir burung kekelik. Saat dimainkan, anak-anak membentuk lingkaran, sementara dua peserta berperan sebagai burung goak dan burung kekelik yang saling mengejar.

Menurut Gede Agus, selain menjaga kelestarian budaya, permainan kelik-kelikan juga mampu melatih konsentrasi, kerja sama, serta aktivitas fisik anak secara menyenangkan. Ia berharap permainan tradisional seperti ini tidak hanya ditampilkan saat festival budaya, tetapi juga terus dimainkan oleh anak-anak usia taman kanak-kanak hingga sekolah dasar di lingkungan masing-masing. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Tradisi Ujungan Jadi Ikhtiar Desa Gumelem Wetan Hadapi Kemarau

PDF đź“„Desa Gumelem Wetan kembali menjadi ruang pelestarian tradisi Ujungan yang diwariskan secara turun-temurun, sekaligus …

Desa Jiporapah Perkuat Warga Dusun Terpencil lewat Tradisi dan Infrastruktur

PDF đź“„Pemerintah Desa Jiporapah mempertahankan kebersamaan warga Dusun Kedung Dendeng melalui pelestarian tradisi sekaligus dukungan …

Lima Warga Jadi Pengrajin, Batik Dorong Potensi Ekonomi Desa Jalatrang

PDF đź“„Desa Jalatrang, Ciamis, mengembangkan batik bukan hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai bagian …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *