YOGYAKARTA – Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan teknologi agrivoltaic sebagai solusi pertanian cerdas yang mengintegrasikan produksi pangan dengan energi terbarukan. Inovasi tersebut telah diterapkan di Desa Pandowoharjo, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan disiapkan untuk diperluas ke berbagai daerah melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Teknologi agrivoltaic menggabungkan pemasangan panel surya di atas lahan pertanian sehingga mampu mendukung kebutuhan energi sekaligus meningkatkan efisiensi budidaya. Pengembangan ini menjadi salah satu upaya menjawab tantangan sektor pertanian, seperti perubahan iklim, keterbatasan lahan, serta penggunaan energi yang lebih berkelanjutan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2021, sekitar 89,54 persen lahan pertanian di Indonesia belum memenuhi standar produktivitas berkelanjutan. Kondisi tersebut dipengaruhi penggunaan bahan kimia berlebihan, pengelolaan tanah yang kurang ramah lingkungan, penggunaan air yang belum efisien, hingga ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino.
Kepala Laboratorium Energi Terbarukan UGM, Ahmad Agus Setiawan, mengatakan konsep tersebut terinspirasi dari keberhasilan pembangkit listrik tenaga surya terapung di Waduk Cirata dan kini mulai diterapkan bersama masyarakat di Desa Pandowoharjo.
“Mereka membawa paket kombinasi panel surya sebagai sumber daya dan Starlink untuk menyediakan akses internet bagi masyarakat. Kita mengharapkan mahasiswa tumbuh bersama masyarakat,” ucapnya dalam Seminar Internasional bertajuk Smart Agrivoltaic Nusantara: Membangun Kedaulatan Pangan, Energi, dan Air Berbasis Teknologi Hijau dari Desa untuk Indonesia, sebagaimana diberitakan RRI, Selasa (30/06/2026).
Pengembangan teknologi tersebut dilakukan bersama Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Bayu Dwi Apri Nugroho. Menurutnya, konsep smart farming memadukan Management Information System (MIS), pertanian presisi (precision agriculture), serta pemanfaatan teknologi dan robotik untuk mendukung pengambilan keputusan di lahan pertanian.
“Makanya dengan smart farming itu akan memudahkan kita dalam mendapatkan informasi melalui sensor yang dipasang. Seperti, tanah di sini itu kekurangan pupuk N, oleh karenanya yang diberikan adalah pupuk N bukan malah diberikan pupuk K,” ucapnya.
Bayu menjelaskan, sistem tersebut memanfaatkan drone pemantau, drone penyemprot, sensor cuaca, serta sensor tanah portabel agar petani memperoleh data kondisi lahan secara real-time. Informasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk, air, dan sumber daya lainnya.
Sementara itu, Direktur Solar Research Institute (SRI) Malaysia, Nofri Yenita Dahlan, menyampaikan penerapan agrivoltaic melalui kawasan solar farm mampu menekan penggunaan listrik sekaligus mendukung kegiatan pertanian.
“Ya jadi dalam situasi ini solar dapat membantu untuk mengurangi penggunaan elektrik tadi,” katanya.
Direktur Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat (DPkM) UGM, Rustamadji, berharap inovasi tersebut dapat diperluas melalui program KKN sehingga masyarakat tidak hanya memperoleh teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan mengelola dan mengembangkannya secara berkelanjutan.
“Penerapan teknologi tepat guna di masyarakat diharapkan tidak sekedar membawa teknologi, tetapi bagaimana menyiapkan masyarakat, kemudian membuat ekosistem yang mendukung untuk terselenggaranya teknologi tersebut,” katanya.
UGM berharap pengembangan agrivoltaic mampu menciptakan model pertanian yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim, efisien dalam penggunaan energi, serta mendukung ketahanan pangan, energi, dan air secara berkelanjutan di berbagai wilayah Indonesia. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara