OGAN ILIR – Upaya meningkatkan pengelolaan sampah berbasis masyarakat di tingkat desa dilakukan melalui pengenalan insinerator sederhana oleh Mahasiswa Praktik Belajar Lapangan (PBL) Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Sriwijaya (UNSRI) Kelompok 28 di Desa Ketapang I, Kabupaten Ogan Ilir. Program tersebut tidak hanya menyerahkan alat pembakaran sampah, tetapi juga memberikan edukasi kepada warga agar pengelolaan limbah rumah tangga dilakukan secara lebih aman, terkontrol, dan ramah lingkungan.
Kegiatan yang berlangsung di Desa Ketapang I itu ditujukan untuk mengurangi kebiasaan membakar sampah secara terbuka yang berpotensi mencemari udara dan berdampak terhadap kesehatan masyarakat. Insinerator sederhana berbahan dasar drum diperkenalkan sebagai alternatif pembakaran sampah yang menghasilkan emisi asap lebih rendah dibandingkan metode konvensional.
Selain menyerahkan insinerator kepada pemerintah desa, mahasiswa memberikan penyuluhan mengenai pemilahan sampah, jenis sampah yang dapat dimusnahkan menggunakan insinerator, serta tata cara penggunaan alat secara aman. Efektivitas penyuluhan diukur melalui pelaksanaan pre-test sebelum kegiatan dan post-test setelah penyuluhan selesai.
Warga juga mengikuti demonstrasi penggunaan insinerator secara langsung sehingga dapat memahami proses pengoperasian alat. Kegiatan berlangsung interaktif dengan diskusi mengenai solusi pengelolaan sampah rumah tangga di lingkungan desa.
Kepala Desa (Kades) Ketapang I, Musyaddad, mengapresiasi pelaksanaan program tersebut. “Kami sangat berterima kasih kepada mahasiswa PBL FKM UNSRI atas program yang telah dilaksanakan. Semoga insinerator sederhana ini dapat dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat dan menjadi salah satu solusi dalam pengelolaan sampah sehingga lingkungan Desa Ketapang I semakin bersih, sehat, dan nyaman,” ujarnya.
Program tersebut juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya tujuan ketiga mengenai kehidupan sehat dan sejahtera serta tujuan keenam mengenai air bersih dan sanitasi layak. Pengelolaan sampah yang lebih baik diharapkan mampu mengurangi pencemaran udara, menjaga kualitas sanitasi lingkungan, serta meminimalkan risiko gangguan kesehatan akibat pembakaran sampah terbuka.
Mahasiswa PBL Kelompok 28 menegaskan bahwa insinerator merupakan alternatif untuk menangani sampah yang sulit didaur ulang. Mereka tetap mendorong masyarakat menerapkan prinsip 3R, yakni reduce (mengurangi), reuse (menggunakan kembali), dan recycle (mendaur ulang), sedangkan pembakaran menjadi pilihan terakhir bagi jenis sampah tertentu. Program tersebut menjadi bagian dari sinergi antara mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat dalam mewujudkan pengelolaan sampah yang berkelanjutan, sebagaimana diwartakan Kompasiana, Rabu, (01/07/2026). []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara