Singopuran Bangun Ketahanan Pangan Lewat Inovasi Pengelolaan Sampah Desa

SUKOHARJO Desa Singopuran, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, berhasil mengubah krisis pengelolaan sampah menjadi penggerak ekonomi desa melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Singopuran Mapan. Berawal dari penutupan lokasi pembuangan sampah pada 2020, desa tersebut kini mengembangkan sistem ekonomi terintegrasi yang menghubungkan pengelolaan sampah, pertanian, peternakan, dan perikanan.

Pengelolaan sampah di Desa Singopuran saat ini sepenuhnya dilakukan oleh BUMDes Singopuran Mapan. Melalui tempat pengelolaan sampah desa, warga didorong untuk memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah sehingga memudahkan proses daur ulang dan meningkatkan nilai ekonomi sampah.

Salah seorang petugas pengelola sampah, Giyono, mengatakan kesadaran masyarakat dalam memilah sampah terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

“Kalau sejak awal sudah dipilah, pekerjaan jadi lebih ringan. Sampah yang masih bernilai juga bisa dimanfaatkan lagi,” ujarnya pada Jumat (19/6/2026).

Upaya tersebut mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Desa (Pemdes) Singopuran yang terus melakukan edukasi kepada masyarakat melalui berbagai forum warga, mulai dari tingkat rukun tetangga (RT), rukun warga (RW), hingga musyawarah desa.

Kepala Desa (Kades) Singopuran, Sih Harjanto, menegaskan bahwa persoalan sampah harus ditangani secara serius karena berpotensi menjadi masalah lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik.

“Kami mendukung program nasional pengurangan sampah, Sop Open Dumping, karena sampah menjadi masalah bila tidak ditangani dengan baik,” kata Sih Harjanto.

Menurutnya, penguatan tata kelola sampah juga dilakukan melalui penyusunan Peraturan Desa (Perdes) tentang Pengelolaan Sampah yang telah menyelesaikan proses klarifikasi dan akan segera disosialisasikan kepada masyarakat.

“Salah satu kegiatan untuk lebih memaksimalkan masyarakat adalah melalui sosialisasi dan edukasi di tingkat RT, RW maupun desa,” ujarnya.

“Perdes sampah telah lolos klarifikasi dan segera disosialisasikan serta ditindaklanjuti dengan juklak melalui tata kelola sampah oleh BUMDes,” tuturnya.

“Mohon support dan doanya agar penanganan sampah di Singopuran bisa lebih maksimal,” ucapnya.

Program pengelolaan sampah tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat yang menargetkan penghentian praktik open dumping atau pembuangan sampah terbuka paling lambat pada 2026. Kebijakan tersebut merupakan bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang diatur melalui Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2025.

Keberhasilan pengelolaan sampah kemudian menjadi titik awal lahirnya berbagai unit usaha desa. Sampah organik diolah menjadi kompos untuk mendukung sektor pertanian, sementara BUMDes mengembangkan usaha peternakan ayam petelur, kambing, budidaya lele, serta pertanian jagung dalam satu rantai ekonomi yang saling terhubung.

Direktur Utama (Dirut) BUMDes Singopuran Mapan, Trian Heryono, menyebut keberhasilan pengelolaan sampah secara mandiri menjadi salah satu alasan Desa Singopuran mendapat perhatian dalam program Desa BRILian.

“Kami sudah tiga kali mengikuti seleksi Desa BRILian, sudah sampai 20 besar dan akan terus maju untuk mengembangkan potensi Desa Singopuran dengan TPS-nya,” ungkap Trian.

“Sebagai bentuk pengembangan, kami juga ke Pandowoharjo, Sleman dan di Banyumas yang bisa kita tiru untuk pengembangan dan pengolahan sampah di TPS,” ujarnya.

Saat ini, usaha peternakan ayam petelur yang dikelola BUMDes menghasilkan sekitar 450 butir telur per hari dari 470 ekor ayam dengan tingkat produktivitas mencapai 90 hingga 95 persen. Produk tersebut sebagian besar diserap oleh pasar lokal dan masyarakat sekitar.

“Kami ingin masing-masing usaha bisa saling mendukung. Jadi tidak berdiri sendiri-sendiri,” paparnya.

Dalam perjalanannya, pengembangan usaha desa juga menghadapi tantangan. Sistem budidaya longyam yang menggabungkan kandang ayam dan kolam lele sempat mengalami kerusakan akibat bencana angin puting beliung sehingga operasional harus dipindahkan ke lokasi lain.

“Fasilitas longyam mengalami kerusakan akibat puting beliung. Karena itu kami pindahkan ke lokasi yang sekarang agar kegiatan tetap berjalan,” ujar Trian.

Pengalaman menghadapi krisis sampah hingga bencana alam menjadi pelajaran berharga bagi warga Desa Singopuran untuk membangun ketahanan ekonomi dan pangan berbasis potensi lokal. Kisah tersebut sebagaimana diwartakan Tribunnews, Selasa (30/06/2026), menunjukkan bahwa pengelolaan sampah yang tepat dapat berkembang menjadi fondasi pembangunan desa yang berkelanjutan. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Festival Wong Tani Cilongok Perkuat Pariwisata dan Pelestarian Budaya Desa

PDF 📄BANYUMAS – Festival Budaya Wong Tani Panusupan 2026 resmi menjadi panggung promosi ekonomi masyarakat …

Potensi Alam Didingga Dilirik, Desa Wisata Diyakini Dongkrak Ekonomi Warga

PDF 📄GORONTALO UTARA – Gagasan pengembangan Desa Didingga di Kecamatan Biau menjadi desa wisata mendapat …

Desa Kemiren Sukses Jadikan Budaya sebagai Sumber Penghasilan

PDF 📄BANYUWANGI – Masyarakat Suku Osing di Desa Kemiren, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, berhasil menjadikan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *