Belum Tersentuh PLN, Warga Desa Tepal Ciptakan Energi Sendiri

SUMBAWA Desa Tepal, Kecamatan Batulanteh, Kabupaten Sumbawa (Sumbawa), Nusa Tenggara Barat (NTB), menunjukkan kemandirian energi melalui pengelolaan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) yang telah menerangi permukiman warga selama lebih dari satu dekade. Di tengah belum tersambungnya jaringan listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN), masyarakat setempat mampu memenuhi kebutuhan listrik secara mandiri melalui pemanfaatan sumber daya alam yang tersedia.

Kemandirian energi tersebut lahir dari inisiatif masyarakat yang memanfaatkan aliran sungai sebagai sumber pembangkit listrik. Sistem kelistrikan desa dikelola oleh Koperasi Serba Usaha (KSU) Puncak Ngengas dan didukung keberadaan sejumlah sumber mata air yang tetap terjaga di wilayah pegunungan Batulanteh.

Salah seorang warga, Haris Nasution, menjelaskan bahwa masyarakat hingga kini masih mengandalkan pembangkit energi terbarukan yang dibangun secara swadaya.

“Kami masih menggunakan sistem listrik mandiri berbasis Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH), dan ada juga yang menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) secara mandiri,” ujar Haris, sebagaimana diberitakan Kompas, Senin (22/06/2026).

Menurut Haris, pemanfaatan energi air di Desa Tepal telah berlangsung selama puluhan tahun. Pembangunan PLTMH pertama dimulai pada 2009 melalui dukungan program Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, kemudian disusul pembangunan unit kedua pada 2013 dengan dukungan Kementerian Koperasi.

Warga yang terlibat sejak tahap perencanaan, Ahdar, mengatakan keberadaan listrik membawa perubahan besar bagi kehidupan masyarakat.

“Alhamdulillah, kami bertahan sampai belasan tahun. Listrik ini sangat membantu, terutama untuk kegiatan warga untuk ibadah dan pendidikan,” ungkap Ahdar.

Pengelolaan listrik dilakukan secara mandiri melalui sistem iuran bulanan yang berkisar Rp60.000 hingga Rp70.000 per rumah. Dana tersebut digunakan untuk operasional dan perawatan fasilitas pembangkit.

“Sebagian dana tersebut dialokasikan untuk biaya perawatan, meski jumlahnya sering kali belum mencukupi,” kata Ahdar.

Manfaat listrik juga dirasakan langsung oleh masyarakat dalam aktivitas sehari-hari. Salah satu warga, Nurhayati, menyebut penerangan membuat kegiatan malam hari menjadi lebih mudah dilakukan.

“Kami lebih mudah beraktivitas di malam hari setelah ada listrik,” kata Nurhayati.

Ia menjelaskan distribusi listrik dilakukan secara bergilir untuk menjaga ketersediaan energi.

“Kalau malam diupayakan listrik menyala di semua rumah. Jika pagi dan siang, untuk menghemat maka ada rumah yang listriknya mati,” ujar Nurhayati.

Kepala Desa (Kades) Tepal, Sudirman, menuturkan kondisi masyarakat jauh berbeda sebelum adanya PLTMH. Saat itu warga masih mengandalkan lampu minyak tradisional sebagai sumber penerangan.

“Dulu sebelum ada listrik, kami menggunakan dila, lampu sederhana yang terbuat dari sumbu dan minyak tanah,” kenang Sudirman.

Meski memberikan manfaat besar, keberlangsungan PLTMH menghadapi berbagai tantangan. Dari dua unit pembangkit yang pernah dibangun, saat ini hanya satu unit yang masih beroperasi secara normal akibat kerusakan pada sejumlah komponen utama.

“Ada alat dan rakitan turbin yang rusak, sehingga yang beroperasi sekarang hanya satu PLTMH saja,” ungkap Haris.

Selain faktor usia peralatan, cuaca ekstrem juga menjadi ancaman terhadap operasional pembangkit. Kerusakan turbin, berkurangnya debit air saat kemarau, hingga risiko longsor dan pohon tumbang menjadi kendala yang harus dihadapi pengelola.

Salah seorang pengelola PLTMH, Sairman, mengatakan kondisi alam sangat memengaruhi produksi listrik desa.

“Saat banjir, operator harus bekerja keras menyalakan dan menjaga turbin. Begitu pula saat musim kemarau, debit air sungai berkurang drastis,” ungkap Sairman.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, warga tetap optimistis mengembangkan sistem energi yang lebih berkelanjutan. Salah satu opsi yang dinilai potensial adalah penggabungan PLTMH dengan PLTS untuk membentuk sistem energi hibrida.

“Ketika debit air sungai menurun pada musim kemarau dan produksi listrik PLTMH menurun, pembangkit listrik tenaga surya dapat mengambil peran untuk menutupi kekurangan daya,” kata Haris.

Model kemandirian energi yang diterapkan Desa Tepal dinilai memiliki potensi untuk direplikasi di berbagai desa terpencil lainnya yang memiliki sumber daya air maupun energi surya. Selain memperluas akses listrik, sistem tersebut juga berkontribusi terhadap pengurangan emisi karbon dan pengembangan energi terbarukan berbasis masyarakat. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Harga Sawit Tak Bergerak, Petani Aceh Singkil Tetap Optimistis

PDF đź“„ACEH SINGKIL – Stabilnya harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani …

Lahan 1 Hektare Warung Bambu Hasilkan Jagung Hibrida Optimal

PDF đź“„KARAWANG – Proyek penguatan ketahanan pangan berbasis jagung hibrida di wilayah Karawang Timur memasuki …

Panen Raya Jagung Bukti Efektivitas Demplot Polsek Meliau

PDF đź“„SANGGAU – Peningkatan produktivitas pertanian melalui sinergi antara kepolisian, penyuluh, dan petani kembali terlihat …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *