BATANG – Ribuan warga memadati ruas jalan di Desa Getas, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, dalam gelaran Getas Suro D’Carnaval 2026 yang menjadi puncak perayaan Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah. Kegiatan budaya tahunan tersebut tidak hanya menghadirkan hiburan rakyat, tetapi juga memperkuat pelestarian tradisi lokal dan kebersamaan masyarakat desa.
Karnaval yang berlangsung pada Minggu (21/6/2026) itu diikuti puluhan kontingen dari berbagai Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW) di Desa Getas. Beragam atraksi ditampilkan, mulai dari kostum tematik, drumband, seni tradisional, hingga pertunjukan budaya yang menarik perhatian ribuan pengunjung dari wilayah Batang Selatan.
Kepala Desa (Kades) Getas Agus Widiyono mengatakan keberhasilan penyelenggaraan acara tidak lepas dari dukungan seluruh elemen masyarakat yang menjaga keamanan dan ketertiban selama kegiatan berlangsung.
“Alhamdulillah seluruh rangkaian acara berjalan lancar tanpa adanya kejadian yang menonjol. Ini menunjukkan tingginya kesadaran masyarakat dalam menjaga ketertiban dan kebersamaan,” ujarnya, sebagaimana diberitakan Pelopornews, Minggu, (21/06/2026).
Menurut Agus, antusiasme masyarakat pada tahun ini meningkat dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya. Kondisi tersebut menunjukkan semakin kuatnya dukungan warga terhadap pelestarian tradisi yang telah menjadi identitas Desa Getas.
“Kami berharap kegiatan ini ke depan bisa lebih meriah lagi dan menjadi salah satu ikon budaya yang membanggakan Desa Getas,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan dan mempertahankan warisan budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
“Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah. Kekompakan dan budaya leluhur harus terus kita jaga bersama,” pesannya.
Sementara itu, Ketua Panitia Getas Suro D’Carnaval Fathul Mujib menjelaskan kegiatan tersebut berawal dari Pawai Ta’aruf yang digagas Ikatan Remaja Masjid (IRMAS) Desa Getas sebagai bagian dari peringatan Tahun Baru Islam. Seiring perkembangan waktu, konsep acara diperluas sejak 2017 dengan menggabungkan nilai keislaman dan budaya lokal masyarakat Jawa.
“Dulu hanya berupa Pawai Ta’aruf. Kemudian kami mengembangkan konsepnya menjadi Suro Carnival agar lebih mampu merangkul tradisi lokal sekaligus menjadi sarana memperingati Tahun Baru Islam,” jelasnya.
Pada penyelenggaraan tahun ini, panitia mengusung tema “Bersinergi Paling Indonesia” yang diwujudkan melalui berbagai pertunjukan budaya khas desa, termasuk atraksi barongsai dan gunungan hasil bumi sebagai simbol keberagaman serta potensi masyarakat setempat.
“Barongsai dan gunungan hasil bumi merupakan identitas Desa Getas. Di situ terlihat adanya sinergi antara seni, budaya, dan hasil bumi masyarakat,” terang Fathul.
Ia mengapresiasi dukungan berbagai pihak, termasuk aparat keamanan dan organisasi kemasyarakatan yang membantu kelancaran acara sehingga ribuan pengunjung dapat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan aman.
“Alhamdulillah kegiatan berjalan sukses. Ribuan pengunjung dapat terlayani dengan baik dan situasi tetap aman serta kondusif berkat dukungan semua pihak,” pungkasnya.
Getas Suro D’Carnaval kini semakin mengukuhkan posisinya sebagai agenda budaya unggulan di Batang Selatan. Selain menjadi ruang hiburan masyarakat, kegiatan tersebut juga berperan dalam menjaga tradisi, mempererat hubungan sosial warga, serta mempromosikan potensi desa kepada khalayak yang lebih luas. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara