SUMBAWA – Komitmen dukungan pemerintah pusat terhadap pengembangan kebudayaan desa kembali menguat. Desa Poto, Kecamatan Moyo Hilir, Kabupaten Sumbawa (Sumbawa), diproyeksikan menerima program kebudayaan dari pemerintah pusat setelah dinilai berhasil mempertahankan status sebagai desa percontohan pemajuan kebudayaan.
Dukungan tersebut disampaikan Wakil Ketua Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), MY Esti Wijayati, saat menghadiri peringatan Bulan Bung Karno yang dirangkaikan dengan Festival Muharam di Desa Poto, Sabtu (20/6/2026). Bantuan yang akan diarahkan ke desa tersebut dapat berupa penyelenggaraan atraksi budaya maupun penyediaan peralatan pendukung kegiatan kebudayaan.
“Insya Allah masih ada sedikit program yang salah satu titiknya nanti untuk Desa Poto. Bentuknya apa, bisa atraksi bisa bantuan alat,” jelasnya.
Menurut Esti, upaya memperjuangkan anggaran kebudayaan di tingkat nasional masih menghadapi tantangan karena alokasi sementara sektor kebudayaan pada tahun anggaran 2027 mengalami penurunan menjadi kurang dari Rp1 triliun untuk seluruh Indonesia.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa aspirasi masyarakat tetap akan diperjuangkan, terutama bagi daerah yang aktif melestarikan warisan budaya. Ia juga mengapresiasi pelaksanaan Festival Muharam yang dinilai mencerminkan komitmen masyarakat dalam menjaga identitas budaya bangsa.
“Bulan Bung Karno itu bulan Juni, bersamaan di bulan Juni juga peringatan Muharam. Jadi, pada kesempatan kita melaksanakan Festival Muharam dengan berbagai kegiatan budaya ini, semakin meneguhkan jati diri kita bahwa kita sebagai negara yang harus beragama atau berkeyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa tetap mempunyai kewajiban untuk melestarikan budaya adiluhur kita semua sebagai bangsa Indonesia,” kata Esti.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga sejarah dan budaya sebagai bagian dari nilai Trisakti Bung Karno yang menekankan kedaulatan politik, kemandirian ekonomi, dan kepribadian dalam kebudayaan.
“Budaya yang ada ini, termasuk kegiatan dalam Festival Muharam ini harus kita lestarikan. Sebagai bentuk kepribadian dalam berkebudayaan untuk masyarakat Indonesia. Selamat Berfestival Muharam dalam rangka Bulan Bung Karno. Jangan melupakan sejarah, Jasmerah. Dan teruslah menancapkan di dada kita bendera merah putih yang kita cintai, dan menjaga NKRI. Tetap bersatu apa pun situasinya, jangan mudah terpecah belah, dan jangan terprovokasi,” tukasnya.
Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Poto, Fathul Muin, menyampaikan bahwa Desa Poto telah ditetapkan sebagai desa percontohan pemajuan kebudayaan oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan sejak 2019. Melalui program tersebut, masyarakat terus merawat sejumlah warisan budaya lokal, yakni tradisi Ponan sebagai ritus adat, Ratib dan Sakeco sebagai seni tradisional, serta tenun Kre Alang sebagai teknologi tradisional.
Fathul berharap dukungan pemerintah pusat melalui Komisi X DPR RI dapat memperkuat pemberdayaan pelaku budaya sekaligus melengkapi sarana dan prasarana pendukung pelestarian kebudayaan desa.
“Kami berharap sinergi antara dukungan pemerintah pusat dengan kebijakan pemerintah kabupaten, saya kira itu yang sangat memungkinkan desa kami bisa bertransformasi sebagai pusat edukasi kebudayaan berbasis badan linier nasionalisme,” harap Kades Poto.
Kegiatan yang turut dihadiri Wakil Bupati (Wabup) Sumbawa Muhammad Ansori, Wakil Ketua II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumbawa Gitta Liesbano, Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sumbawa Abdul Rafiq, unsur pemerintah kecamatan, serta masyarakat setempat itu menjadi momentum memperkuat sinergi pelestarian budaya antara pemerintah dan masyarakat desa, sebagaimana diberitakan Kabar Sumbawa, Minggu, (21/06/2026). Harapannya, Desa Poto dapat berkembang menjadi pusat edukasi kebudayaan yang memperkuat identitas nasional sekaligus mendorong pembangunan berbasis budaya. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara