BULELENG – Program Desa Sejahtera Astra di Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng (Buleleng), Bali, berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekaligus menjaga kelestarian budaya dan lingkungan. Sejak dijalankan pada 2024, program tersebut telah menjangkau lebih dari 800 warga dan meningkatkan pendapatan masyarakat hingga 25 persen.
Desa Les berkembang sebagai destinasi wisata berbasis masyarakat yang memadukan potensi alam, budaya lokal, serta kegiatan ekonomi berkelanjutan. Kawasan yang berada di pesisir Bali Utara itu menawarkan pengalaman wisata yang mengedepankan kehidupan masyarakat setempat tanpa meninggalkan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Melalui berbagai program pemberdayaan, masyarakat mendapatkan dukungan di sektor pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan kewirausahaan. Selain meningkatkan kualitas hidup warga, program tersebut juga membuka lapangan kerja baru serta membantu penyerapan pasar terhadap produk lokal hingga 100 persen.
“Melalui Desa Sejahtera Astra, kami percaya bahwa pembangunan desa tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga bagaimana menjaga keseimbangan antara kemajuan, kelestarian lingkungan, serta identitas budaya yang dimiliki masyarakat,” ujar Chief of Corporate Affairs (Chief of Corporate Affairs) Astra, Boy Kelana Soebroto, sebagaimana diwartakan Surya, Kamis (18/06/2026).
Di bidang kesehatan, masyarakat bersama kader kesehatan aktif menjalankan layanan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), edukasi kehamilan, hingga pemberian makanan tambahan bagi anak yang mengalami stunting dan gizi buruk. Sementara itu, sektor pendidikan diperkuat melalui pelatihan bahasa Inggris dan pengembangan kapasitas pariwisata untuk menyiapkan pemandu wisata lokal.
Kegiatan kelas alam yang diikuti 15 peserta dari tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) turut meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris generasi muda desa sehingga lebih siap berinteraksi dengan wisatawan mancanegara.
Komitmen terhadap lingkungan juga diwujudkan melalui konservasi dan transplantasi terumbu karang, pengelolaan sampah berbasis komunitas, serta produksi pupuk kompos dari limbah organik. Melalui program Les Grow, warga dibiasakan memilah sampah sejak dari rumah untuk diolah menjadi produk yang bernilai ekonomi.
Di sektor usaha, warga tetap mempertahankan produksi garam tradisional sebagai komoditas unggulan desa. Dengan metode alami yang diwariskan turun-temurun, masyarakat mampu menghasilkan sekitar dua hingga tiga ton garam setiap masa panen dan memasarkannya ke berbagai daerah di Indonesia.
Penguatan ekonomi desa semakin berkembang melalui kerja sama dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Giri Segara dalam pemasaran produk unggulan dan pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Bahkan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali turut mendukung pemasaran garam Desa Les dengan permintaan pembelian sekitar satu ton per bulan atau senilai sekitar Rp25 juta.
Keberhasilan Desa Les menunjukkan bahwa pembangunan berbasis masyarakat mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan tanpa mengorbankan budaya lokal maupun kelestarian lingkungan, sekaligus menjadi model pengembangan desa wisata yang dapat direplikasi di daerah lain. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara