Konservasi Karang hingga Kuliner Unik, Ini Daya Tarik Desa Wisata Les

BULELENG Desa Wisata Les di Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali, terus memperkuat posisinya sebagai destinasi unggulan di Bali Utara melalui perpaduan wisata berbasis konservasi lingkungan, pelestarian budaya, kuliner khas, serta warisan sejarah yang masih terjaga hingga kini. Desa tersebut bahkan berhasil masuk dalam 50 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024.

Salah satu daya tarik utama desa ini adalah kawasan wisata bawah laut yang menjadi pusat rehabilitasi terumbu karang jenis Acropora sp. Program konservasi dilakukan melalui teknik transplantasi karang menggunakan metode fishdome untuk memulihkan ekosistem laut yang sebelumnya terdampak aktivitas penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan.

Penelitian di kawasan pantai Desa Les juga menunjukkan bahwa faktor kedalaman laut berpengaruh terhadap percepatan pertumbuhan karang. Temuan tersebut dinilai mendukung keberlanjutan ekosistem laut sekaligus membuka peluang ekonomi berbasis pariwisata yang lebih berkelanjutan.

Selain wisata bahari, Desa Les menawarkan destinasi alam berupa Air Terjun Yeh Mampeh yang memiliki ketinggian sekitar 30 meter. Air terjun dengan nama yang berarti “air yang terbang” itu dapat dijangkau melalui perjalanan berjalan kaki sekitar 15 menit dari area akses utama. Wisatawan dapat menikmati suasana alam yang masih asri dengan air yang jernih dan sejuk.

Di sektor kuliner, desa ini menghadirkan konsep berbeda melalui Dapur Bali Moela yang didirikan oleh Chef Gede Yudiawan. Tempat makan tersebut menyajikan hidangan berbahan hasil tangkapan nelayan lokal yang dimasak menggunakan tungku kayu bakar. Menariknya, pengunjung tidak dikenakan tarif tetap, melainkan memberikan donasi sesuai kemampuan.

Keunikan lainnya terlihat pada tradisi pembuatan garam yang masih dipertahankan masyarakat setempat. Wisatawan dapat menyaksikan langsung proses produksi garam tradisional yang diwariskan secara turun-temurun menggunakan media tanah dan wadah bambu.

Dari sisi sejarah, Desa Les memiliki keterkaitan dengan wilayah kuno bernama Panjingan yang dikenal sebagai pelabuhan masuk ke Pulau Bali sebelum abad ke-10. Nama Les diyakini berasal dari kata yang bermakna bersembunyi atau melarikan diri, merujuk pada perpindahan penduduk pada masa lampau.

Kemudahan akses juga menjadi nilai tambah bagi desa wisata ini. Lokasinya dapat ditempuh dari kawasan Kintamani dalam waktu sekitar 25 hingga 50 menit melalui jalur alternatif yang menyuguhkan panorama perbukitan. Berbagai pilihan penginapan berbasis masyarakat turut tersedia untuk mendukung kenyamanan wisatawan yang ingin menikmati suasana desa lebih lama.

Keberhasilan Desa Wisata Les dalam mengembangkan pariwisata berbasis lingkungan, budaya, dan sejarah menjadi contoh pengelolaan desa wisata yang mampu menjaga keseimbangan antara pelestarian sumber daya lokal dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, sebagaimana diwartakan Hr Online, Selasa, (16/06/2026). []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Model Desa Digital Warnasari Dinilai Layak Jadi Rujukan ASEAN

PDF 📄JEMBRANA – Penguatan inovasi berbasis data di tingkat banjar di Kabupaten Jembrana, Bali, kembali …

Gerbang Kantor Desa Klapagading Kulon Tertutup, Aparat Siaga

PDF 📄BANYUMAS – Situasi pelayanan di Kantor Desa Klapagading Kulon, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, kembali …

Desa Grejeg Genjot Layanan Kesehatan Dasar Masyarakat

PDF 📄GRESIK – Pemerintah Desa Grejeg, Kecamatan Tambak, Kabupaten Gresik, terus memperkuat layanan kesehatan dasar …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *