BULELENG – Desa Les di Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng (Buleleng), Bali, menunjukkan bahwa pengembangan pariwisata berbasis masyarakat dapat berjalan beriringan dengan pelestarian budaya dan lingkungan. Melalui Program Desa Sejahtera Astra (DSA), desa pesisir tersebut berhasil meningkatkan pendapatan warga hingga 25 persen, membuka lapangan kerja baru, serta memperluas pemasaran produk lokal.
Pengembangan desa dilakukan dengan memanfaatkan potensi alam yang dimiliki, mulai dari kawasan perbukitan, lahan pertanian, wilayah pesisir, hingga produksi garam tradisional. Potensi tersebut kemudian dikemas menjadi berbagai daya tarik wisata yang melibatkan masyarakat secara langsung sebagai pelaku utama.
Sejak bergabung dalam program DSA pada 2024, lebih dari 800 warga telah terlibat dalam berbagai kegiatan pemberdayaan yang berfokus pada sektor pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan kewirausahaan. Program ini mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi desa.
Chief of Corporate Affairs (Chief) Astra, Boy Kelana Soebroto, mengatakan pembangunan desa harus mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kelestarian lingkungan, dan identitas budaya masyarakat.
“Melalui Desa Sejahtera Astra, kami percaya bahwa pembangunan desa tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga bagaimana menjaga keseimbangan antara kemajuan, kelestarian lingkungan, serta identitas budaya yang dimiliki masyarakat,” ungkap Boy dalam siaran tertulis pada Senin (15/6/2026), sebagaimana diberitakan Wartakotalive, Senin (15/06/2026).
“Astra berharap kolaborasi yang dijalankan melalui Desa Sejahtera Astra tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, tetapi juga menjaga keseimbangan antara kemajuan, pelestarian lingkungan, dan identitas budaya desa agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan untuk hari ini dan masa depan Indonesia,” jelasnya.
Pada sektor kesehatan, warga bersama kader kesehatan menjalankan layanan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), edukasi kehamilan, hingga pemberian makanan tambahan bagi anak yang mengalami stunting dan gizi buruk. Sementara itu, bidang pendidikan difokuskan pada peningkatan kapasitas generasi muda melalui pelatihan bahasa Inggris dan kepariwisataan untuk mencetak pemandu wisata lokal.
Upaya pelestarian lingkungan juga menjadi bagian penting dalam pengembangan Desa Les. Warga terlibat dalam konservasi dan transplantasi terumbu karang, pengelolaan sampah berbasis masyarakat, serta produksi pupuk kompos melalui program Les Grow. Sampah organik yang terkumpul diolah menjadi kompos untuk mendukung kebun terpadu milik Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) desa sekaligus memberikan nilai ekonomi tambahan.
Di sektor ekonomi, masyarakat tetap mempertahankan tradisi pembuatan garam secara turun-temurun. Dengan metode alami, produksi garam mencapai dua hingga tiga ton setiap masa panen. Penguatan usaha masyarakat juga didukung kerja sama dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Giri Segara dalam pemasaran produk unggulan desa dan pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Kolaborasi dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali turut membuka akses pasar yang lebih luas. Permintaan garam dari Desa Les saat ini mencapai sekitar satu ton per bulan dengan nilai ekonomi sekitar Rp25 juta, memperlihatkan bahwa tradisi lokal dapat berkembang menjadi sumber penghidupan berkelanjutan.
Keberhasilan pemberdayaan masyarakat dan pengembangan potensi desa tersebut mengantarkan Desa Les meraih penghargaan Juara Umum Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024 dari Kementerian Pariwisata. Prestasi ini menjadi bukti bahwa pembangunan desa berbasis masyarakat mampu menghadirkan manfaat ekonomi tanpa mengorbankan budaya dan lingkungan. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara