BOYOLALI – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai menekan industri kerajinan tembaga di Desa Tumang, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali (Boyolali). Kenaikan harga bahan baku impor dan pembatalan sejumlah pesanan ekspor membuat pelaku usaha di sentra kerajinan tersebut menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat.
Kepala Desa (Kades) Tumang, Mawardi, mengatakan mayoritas bahan baku yang digunakan perajin masih bergantung pada impor sehingga gejolak kurs langsung berdampak terhadap biaya produksi.
“Perajin tembaga Desa Tumang ini merasakan dampaknya yang luar biasa. Meskipun tidak langsung, tapi begitu dollar naik itu otomatis perajin menjerit. Sekarang ini bukan lagi naik harga bahan bakunya, tapi sudah ganti harga bahan baku. Semua perajin bahan bakunya adalah impor,” kata Mawardi.
Menurutnya, kenaikan harga bahan baku terjadi dalam waktu relatif singkat dan diperparah oleh melemahnya rupiah yang menembus level tinggi terhadap dolar AS. Kondisi tersebut menimbulkan persoalan baru bagi pelaku usaha yang sebelumnya telah menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan pembeli dari luar negeri.
“Yang menjadi persoalan saat perajin awalnya sudah melakukan MoU, sudah kesepakatan harga. Namun karena ini (nilai tukar rupiah) tembus sampai Rp 18.000, akhirnya menjadi persoalan tersendiri,” katanya.
Mawardi menjelaskan banyak pelaku usaha mengalami kerugian karena pembeli tidak bersedia menerima perubahan spesifikasi produk maupun penyesuaian harga akibat lonjakan biaya produksi.
“Banyak yang mengalami kerugian karena rata-rata kalau sudah terjadi MoU ini buyer sudah tidak mau diganti misalnya ketebalannya atau bahannya mereka sudah tidak mau diganti. Ini yang menjadi masalah,” tambahnya.
Selain tekanan kurs, perajin juga disebut telah terdampak kebijakan efisiensi anggaran pemerintah yang menyebabkan sejumlah proyek tidak berlanjut. Situasi tersebut membuat permintaan produk kerajinan menurun di tengah kenaikan biaya produksi.
“Ya kalau Pak Prabowo bilang katakanlah orang desa tidak menggunakan dollar, kami tidak menggunakan dollar. Tapi pembelian bahan bakunya semua dari luar negeri,” kata Mawardi.
Ia berharap pemerintah dapat mendorong pemanfaatan bahan baku dalam negeri dengan kualitas yang mampu bersaing dengan produk impor sehingga ketergantungan terhadap pasokan luar negeri dapat dikurangi.
“Kalau misalnya negara kita kaya akan bahan baku atau bahan tembaga dan kuningan, kami mestinya mohon kepada pemerintah untuk bisa dikeluarkan bahan yang kualitasnya sama dengan kualitasnya yang dari luar negeri. Karena kita punya tambangnya tapi tidak bisa mengeluarkan bahan-bahannya itu,” sambung dia.
Sentra kerajinan tembaga Tumang selama ini menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat di Kecamatan Cepogo. Mawardi menyebut sekitar 50 persen dari total 9.000 penduduk di wilayah tersebut menggantungkan mata pencaharian pada sektor kerajinan tembaga, sebagaimana diberitakan Kompas, Rabu, (10/06/2026).
Kondisi nilai tukar yang belum stabil membuat pelaku usaha berharap adanya kebijakan yang mampu menjaga daya saing industri kerajinan sekaligus melindungi keberlangsungan usaha masyarakat desa yang bergantung pada pasar ekspor. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara