BULELENG – Pengembangan garam tradisional dan pariwisata berbasis budaya menjadi strategi utama Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng (Buleleng), dalam memperkuat ekonomi masyarakat sekaligus menjaga warisan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun. Melalui program Desa Sejahtera Astra (DSA), desa tersebut berhasil mengintegrasikan sektor ekonomi, budaya, lingkungan, dan wisata dalam satu ekosistem pembangunan berkelanjutan.
Sejak bergabung dalam program DSA pada 2024, Desa Les mengembangkan Garam Les atau garam palungan sebagai produk unggulan yang tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga menjadi daya tarik wisata edukasi dan budaya. Garam tradisional tersebut diproduksi menggunakan metode khas yang memadukan air laut, tanah pesisir, dan panas matahari sehingga menghasilkan karakter rasa serta kandungan mineral yang berbeda dari garam produksi modern.
Penggerak atau Local Champion Desa Sejahtera Astra Desa Les, Nyoman Nadiana, menjelaskan teknik pembuatan Garam Les diyakini memiliki jejak akulturasi budaya dengan Tiongkok yang pernah menjalin hubungan perdagangan dengan wilayah pesisir utara Bali.
“Jadi ini memang jalur perdagangan, kuat diduga Cina memang berakulturasi dengan kita, makannya setiap upacara pakai uang keping Cina termasuk kuat diduga ngasih tau teknik pembuatan garam ini,” katanya.
Proses produksi dimulai dengan menyiramkan air laut ke lahan tanah pesisir yang telah dibentuk khusus. Setelah menyerap kandungan garam, campuran tanah dan air laut tersebut disaring menggunakan wadah berbentuk kerucut yang ditempatkan di atas batang kelapa berbentuk palung. Air hasil penyaringan kemudian dijemur hingga menjadi kristal garam.
“Sebulan setengah, dua bulan, dia akan taruh unsur hara tanah baru. Beberapa ember saja. Jadi proses pembuatan Garam Les adalah sangat tradisional, setelah itu menggunakan media tanah. Ini yang terpenting. Karena beberapa tempat kebanyakan itu air laut ditampung beberapa saat. Baru disemai. Makanya rasanya pasti sangat pahit,” katanya.
Ia menambahkan bahwa perpaduan tanah pesisir dan air laut menjadi faktor penting yang menghasilkan kualitas Garam Les.
“Karena ada kandungan mineral baik tanah sama mineral baik air laut,. Jadi ini perpaduannya segara dan tanah. Ada unsur pertiwi di sini,” ujarnya.
Meski memiliki nilai jual tinggi, keberlanjutan Garam Les menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari ketergantungan terhadap cuaca, abrasi pantai, hingga minimnya regenerasi petani garam. Saat ini, jumlah ladang garam tradisional yang masih aktif diperkirakan hanya sekitar 15 lokasi.
“Satu, karena abrasi. Dua, karena memang enggak ada generasi, siapa mau bertani kayak gini? Panas dan lain sebagainya. Tiga, karena pariwisata. Mending bangun vila, bangun kolam di tepi pantai,” ujarnya.
Untuk menjaga keberlanjutan usaha tersebut, Pemerintah Desa (Pemdes) Les bersama Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) mengembangkan konsep wisata “Nyegara Gunung” yang menghubungkan potensi pesisir, budaya desa, hingga kawasan perbukitan. Wisatawan dapat melihat langsung proses pembuatan Garam Les, menikmati wisata alam, mengenal budaya lokal, hingga mencicipi kuliner khas desa.
Menurut Nyoman Nadiana, konsep tersebut dirancang untuk menghadirkan pengalaman wisata yang lengkap dari kawasan pantai hingga pegunungan.
“Hanya desa ini yang formatnya komplit satu desa. Jadi kalau kayak anatomi tubuh kakinya di laut, pusat desanya juga panjang, jadi dari pantai, pasar, sampai ke air terjun itu sudah masuk bukit,” katanya.
“Bikin apa pun selalu seperti itu, termasuk trip. Makanya di arah pantai dulu, laut, barulah masuk-masuk desa, teman-teman bisa merasakan gunungnya,” ujarnya.
Pengembangan desa wisata tersebut mendapat dukungan dari Astra melalui program DSA. Head of Corporate Communications Astra, Windy Riswantyo, mengatakan program tersebut telah memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat.
“Program ini telah menjangkau lebih dari 800 masyarakat desa, mendorong peningkatan pendapatan masyarakat sebesar 25 persen, menyerap puluhan tenaga kerja baru, serta membantu penyerapan pasar terhadap produk lokal hingga 100 persen,” ujarnya.
Menurut Windy, sebagaimana diberitakan Fortune Indonesia, Senin (08/06/2026), Desa Les memiliki potensi besar karena mampu mengombinasikan kekayaan alam, budaya, dan ekonomi lokal dengan partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan.
“Astra melihat potensi tersebut dapat terus dikembangkan melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan sehingga mampu menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, pelestarian budaya, dan lingkungan,” katanya.
Kepala Desa (Kades) Les, Gede Adi Wistara, menyebut dukungan yang diberikan melalui program DSA turut memperkuat posisi desa sebagai destinasi wisata dan pusat pembelajaran masyarakat.
“Karena kita jadi binaan Astra, tentu kita selalu siap. Menyambut kunjungan ataupun penelitian,” ujarnya.
Atas keberhasilannya menggabungkan pelestarian budaya, penguatan ekonomi lokal, dan pengembangan pariwisata berkelanjutan, Desa Sejahtera Astra Desa Les meraih predikat Juara Umum Desa Wisata Terbaik dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024. Penghargaan tersebut menjadi modal penting untuk terus mengembangkan desa berbasis kearifan lokal dengan Garam Les sebagai ikon utama pembangunan ekonomi masyarakat. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara