Desa Slagi Lestarikan Budaya Jawa Lewat Pagelaran Wayang Kulit Sang Wiji Suci

JEPARA Tradisi sedekah bumi di Desa Slagi, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Jepara, kembali menjadi ajang memperkuat kebersamaan warga sekaligus melestarikan warisan budaya Jawa melalui pagelaran wayang kulit yang menampilkan lakon Sang Wiji Suci. Kegiatan yang berlangsung di Balai Desa Slagi pada Rabu (03/06/2026) malam itu menjadi puncak rangkaian perayaan sedekah bumi yang digelar masyarakat setempat.

Acara tersebut dihadiri Kepala Desa (Kades) Slagi Damam, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Tengah Andang Wahyu Triyanto, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), para ketua rukun tetangga (RT), rukun warga (RW), lembaga desa, tokoh masyarakat, serta ratusan warga.

Mengusung tema “Melestarikan Tradisi Merajut Kebersamaan Membangun Desa yang Berbudaya”, kegiatan ini tidak hanya menjadi ungkapan rasa syukur atas hasil panen masyarakat, tetapi juga sarana menjaga keberlangsungan seni tradisional di tengah perkembangan zaman.

Rangkaian sedekah bumi telah dimulai sejak 31 Mei 2026 melalui Festival Gunungan. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas), jalan sehat, bola voli komedi, lomba tongtek, serta bazar usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebelum mencapai puncaknya dengan pertunjukan wayang kulit.

Kades Slagi Damam mengatakan tradisi sedekah bumi memiliki makna yang lebih dalam dibanding sekadar agenda tahunan masyarakat.

“Tradisi ritual sedekah bumi mempunyai makna yang lebih dari itu, tetapi sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas hasil bumi atas panen yang berlimpah,” kata Damam, sebagaimana diberitakan Liputan7, Jumat (05/06/2026).

Menurutnya, tradisi tersebut telah diwariskan secara turun-temurun sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus sarana mempererat hubungan sosial antarwarga.

Sementara itu, dalang Ki Sasmito Cokro membawakan lakon Sang Wiji Suci yang mengangkat kisah Raden Wisanggeni sebagai sosok pemimpin ideal yang memiliki keberanian, kecerdasan, dan kesaktian.

“Merupakan cerita yang melambangkan lahirnya satria atau pemimpin unggul yang memiliki keberanian, kecerdasan, dan kesaktian yakni Raden Wisanggeni,” kata Ki Sasmito Cokro.

Ia menjelaskan bahwa kisah tersebut mengandung pesan moral yang relevan bagi kehidupan masyarakat.

“Diceritakan seperti sosok Raden Wisanggeni ini simbol kekuatan dan keragaman yang luar biasa,” tambahnya.

Pertunjukan yang berlangsung mulai pukul 20.00 WIB hingga selesai itu juga menyampaikan nilai-nilai tentang pentingnya menegakkan kebenaran, keadilan, dan kejujuran dalam kehidupan bermasyarakat.

Melalui pelestarian tradisi sedekah bumi dan kesenian wayang kulit, masyarakat Desa Slagi berharap warisan budaya leluhur tetap terjaga sekaligus menjadi sarana memperkuat identitas budaya desa bagi generasi mendatang. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Mendes Pastikan Kopdes Merah Putih Tak Matikan Warung Kelontong Desa

PDF đź“„JAKARTA – Pemerintah memastikan keberadaan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes Merah Putih) dirancang untuk …

Dana Desa Terancam Berkurang Rp600 Juta, Banggar DPR Soroti Dampak KDMP

PDF đź“„JAKARTA – Kekhawatiran terhadap berkurangnya ruang fiskal desa mencuat menyusul implementasi program Koperasi Desa …

Akses Utama Rinhat–Betun Kian Rusak, Warga Desak Perbaikan Permanen

PDF đź“„MALAKA – Ruas jalan kabupaten di Desa Lotas, Kecamatan Rinhat, Kabupaten Malaka, yang rusak …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *