Kopi Organik Desa Ketapanrame Naik Kelas, Tembus Pasar Belanda dan China

MOJOKERTO – Pengembangan usaha kopi berbasis desa di Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto (Mojokerto), berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi lokal sekaligus memperkuat sektor wisata desa. Produk unggulan Coffee Bontugu kini tidak hanya dipasarkan di berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga telah menembus pasar internasional melalui ekspor dan permintaan dari luar negeri.

Keberhasilan tersebut merupakan hasil sinergi antara masyarakat desa, Pemerintah Desa (Pemdes) Ketapanrame, serta dukungan pendampingan dari Bank Indonesia (BI). Pengembangan usaha dilakukan secara menyeluruh mulai dari budidaya kopi, pengolahan pascapanen, pemasaran, hingga pengembangan produk turunan yang memiliki nilai tambah.

Kepala Desa (Kades) Ketapanrame, Zainul Arifin, mengatakan kopi menjadi salah satu produk unggulan desa yang terus didorong agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas. Menurutnya, berbagai program pendampingan yang diberikan BI telah membantu pelaku usaha meningkatkan kualitas produk dan memperluas jangkauan pemasaran.

“Setelah didampingi BI, beberapa event, pameran, festival kami ikuti. Sehingga kopi kami sekarang ini naik kelas. Banyak dikenal oleh banyak orang. Tidak hanya di dalam negeri tapi juga banyak di luar negeri,” ujarnya sebagaimana diwartakan Tribun Kaltim, Jumat (22/05/2026).

Ia menjelaskan, dukungan BI tidak hanya berupa promosi, tetapi juga mencakup penguatan produksi melalui pelatihan budidaya, perawatan tanaman, pengolahan hasil panen, hingga pemasaran. Berbagai fasilitas produksi seperti mesin pemilah kopi, mesin sangrai (roasting), mesin penggiling (grinder), serta generator set (genset) juga diberikan guna menunjang kualitas produk.

Selain itu, BI turut menghadirkan konsultan khusus yang mendampingi proses pengolahan kopi selama beberapa bulan untuk meningkatkan standar mutu produk yang dihasilkan masyarakat desa.

Perkembangan Coffee Bontugu juga ditopang oleh keterlibatan generasi muda desa. Salah satunya Sekretaris Kelompok Coffee Bontugu, Wahyu Satria, yang aktif mengembangkan usaha kopi modern berbasis potensi lokal.

Wahyu mengungkapkan kelompok tersebut saat ini memiliki sekitar 43 petani aktif yang mengembangkan kopi organik tanpa bahan kimia. Para petani secara rutin memperoleh pelatihan dari BI dan Universitas Brawijaya terkait pengelolaan kebun kopi.

“Yang paling banyak dilakukan itu pelatihan pasca panen sama tentang hama dan penyakit di kebun kopi,” ujarnya.

Ia menambahkan, selain menjual kopi bubuk dan biji kopi sangrai (roasted bean), kelompok tersebut juga memasok kopi ke Bandung, Tangerang, Surabaya, Malang, Sidoarjo, hingga Kalimantan melalui jaringan distributor. Pada musim panen, distribusi kopi dapat mencapai 100 hingga 200 kilogram per hari.

Tak hanya itu, Coffee Bontugu juga berhasil mencatatkan ekspor langsung ke Belanda pada 2025 setelah wisatawan mancanegara tertarik terhadap produk kopi dan biskuit kopi yang dihasilkan masyarakat desa.

“Tahun kemarin sempat ekspor langsung ke Belanda, setelah ada wisatawan asing yang tertarik dengan kopi dan cookies (kue kering) kopi kami. Jadi si pembelinya langsung datang ke rumah dan bawa 20 kilo biji kopi goreng sama di 60 boks biskuit kopi,” bebernya.

Dari sisi ekonomi, penjualan biji kopi mampu menghasilkan omzet sekitar Rp40 juta setiap tiga bulan. Jika ditambah produk turunan seperti biskuit kopi dan teh, total omzet usaha dapat mencapai Rp50 juta hingga Rp60 juta dalam periode yang sama.

Saat ini Coffee Bontugu juga hadir dalam konsep kedai kopi (coffee shop) wisata yang melayani pengunjung Taman Ghanjaran dan kawasan wisata lainnya di Ketapanrame. Berbagai menu kopi ditawarkan dengan harga berkisar Rp13 ribu hingga Rp15 ribu per cangkir.

“Sebenarnya kita baru opening, di homebase kita di Taman Ghanjaran. Sementara ini, produk kita yang paling banyak diminati itu di menu kopi susu,” pungkasnya.

Keberhasilan Coffee Bontugu menjadi contoh bagaimana pengelolaan potensi lokal berbasis desa mampu menciptakan lapangan usaha, meningkatkan pendapatan masyarakat, sekaligus memperkuat daya tarik wisata desa di Mojokerto. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Randupitu Wujudkan Desa Bersih Lewat Program Desa Cantik

PDF 📄PASURUAN – Pemerintah Desa (Pemdes) Randupitu, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, resmi mengembangkan program “Desa …

Tumpukan Sampah 50 Meter Ganggu Warga Pesisir Pamekasan

PDF 📄PAMEKASAN – Warga di Desa Branta Pesisir, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, menghadapi …

Pesisir Branta Dipenuhi Limbah Rumah Tangga, Warga Keluhkan Minimnya Fasilitas

PDF 📄PAMEKASAN – Tumpukan sampah rumah tangga yang menggunung di kawasan pesisir Desa Branta Pesisir, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *