Akademisi Dorong Desa Wisata Lobar Naik Kelas Lewat Riset dan Inovasi

LOMBOK BARAT Pengembangan desa wisata berbasis kearifan lokal di Kabupaten Lombok Barat (Lobar), Nusa Tenggara Barat (NTB), mendapat dukungan dari kalangan akademisi. Sebanyak 26 mahasiswa Program Pascasarjana S2 dan S3 IPB Internasional Bali melakukan penelitian sekaligus pengabdian masyarakat di Desa Sedau dan Desa Batu Kumbung, Kecamatan Narmada, Jumat (22/5/2026), guna menyusun strategi pengembangan pariwisata berkelanjutan yang berdampak langsung bagi masyarakat desa.

Kegiatan tersebut difokuskan pada pemetaan potensi wisata, penguatan produk lokal, serta identifikasi kebutuhan infrastruktur yang masih perlu ditingkatkan agar mampu mendukung pertumbuhan sektor pariwisata desa secara berkelanjutan.

Direktur Pascasarjana S2 dan S3 IPB Internasional Bali, Made Budiarsa, menegaskan bahwa riset lapangan menjadi langkah penting dalam menghasilkan inovasi yang dapat diterapkan langsung oleh masyarakat. Menurutnya, pengembangan destinasi wisata harus tetap berpijak pada budaya dan kearifan lokal yang menjadi identitas setiap daerah.

“Tujuan kita di S3 itu mengembangkan doktor-doktor yang mempunyai karakteristik local wisdom, terutama yang berkaitan dengan budaya,” ujar Budiarsa, sebagaimana diberitakan Tribun Lombok, Jumat (22/05/2026).

Ia menilai setiap daerah memiliki tantangan yang hampir serupa dalam mengembangkan sektor wisata. Namun, pendekatan penyelesaiannya harus disesuaikan dengan karakter budaya setempat agar mampu menciptakan daya tarik yang khas dan berkelanjutan.

“Kita ingin menghasilkan data mentah yang diolah menjadi sesuatu yang applicable untuk diterapkan dan menjadi inovasi produk yang bisa dikembangkan di tempat lain maupun di sini,” katanya.

Sementara itu, Ketua Program S2 IPB Internasional Bali, Herny Susanti, mengatakan kunjungan tersebut merupakan implementasi mata kuliah Manajemen Destinasi dan Pemasaran Pariwisata. Dari hasil pengamatan lapangan, tim menemukan bahwa Desa Sedau memiliki potensi wisata yang besar, namun masih membutuhkan penguatan infrastruktur dasar.

“Kami melihat aksesibilitas yang belum diperhatikan serta fasilitas penunjang seperti toilet umum yang masih sangat sedikit,” ujarnya.

Selain aksesibilitas, keberadaan homestay dan fasilitas pendukung wisata lainnya juga dinilai masih terbatas. Padahal, fasilitas tersebut menjadi bagian penting dalam meningkatkan kenyamanan wisatawan yang berkunjung.

Melalui program pengabdian masyarakat, IPB Internasional Bali juga mendorong pengembangan produk unggulan desa berbasis tanaman pegagan. Produk tersebut direncanakan dapat diolah menjadi minuman herbal, welcome drink, hingga lulur tradisional yang memiliki nilai tambah ekonomi bagi warga.

Direktur Mandalika International Festival sekaligus mahasiswa S3 IPB Internasional Bali, Sirajuddin, menekankan pentingnya penerapan strategi penta-helix dalam pengembangan desa wisata. Menurutnya, kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media menjadi kunci dalam menciptakan destinasi yang berdaya saing.

“Setiap objek itu kami selalu menggunakan pendekatan penta-helix, di mana semua diajak berkolaborasi termasuk masyarakat,” katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya memenuhi kebutuhan wisatawan melalui konsep something to see, something to do, something to buy, dan something to eat agar pengalaman berwisata di desa semakin lengkap dan menarik.

Di sisi lain, mahasiswa S3 IPB Internasional Bali, Lalu Ratmaja, berharap kerja sama antara IPB Internasional Bali dan Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Lombok dapat diperluas melalui penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dan berbagai program pengembangan sumber daya manusia di sektor pariwisata.

“Kami berharap pimpinan Poltekpar Lombok bisa berkunjung balik sekaligus menandatangani MOU di IPB Internasional untuk melakukan implementasi sesuai kebutuhan dan kelebihan masing-masing perguruan tinggi. Kerja sama ini mencakup pertukaran dosen, penguji luar untuk program doktoral, hingga kolaborasi penelitian hibah dari kementerian yang memerlukan sinergi antar-kampus di luar Bali,” singkatnya.

Hasil penelitian dan pengabdian masyarakat tersebut diharapkan dapat menjadi dasar penyusunan strategi pengembangan desa wisata yang lebih terarah, sekaligus meningkatkan daya saing destinasi berbasis kearifan lokal di Lobar dan NTB. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Randupitu Wujudkan Desa Bersih Lewat Program Desa Cantik

PDF đź“„PASURUAN – Pemerintah Desa (Pemdes) Randupitu, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, resmi mengembangkan program “Desa …

Tumpukan Sampah 50 Meter Ganggu Warga Pesisir Pamekasan

PDF đź“„PAMEKASAN – Warga di Desa Branta Pesisir, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, menghadapi …

Pesisir Branta Dipenuhi Limbah Rumah Tangga, Warga Keluhkan Minimnya Fasilitas

PDF đź“„PAMEKASAN – Tumpukan sampah rumah tangga yang menggunung di kawasan pesisir Desa Branta Pesisir, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *