PENAJAM PASER UTARA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Penajam Paser Utara (PPU) menggandeng Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA) untuk mengembangkan inovasi pertanian desa melalui uji coba penanaman padi unggul Gamagora-7 di Desa Sidorejo, Kecamatan Penajam. Program ini diharapkan memperkuat ketahanan pangan kawasan penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN) sekaligus meningkatkan produktivitas petani setempat.
Uji coba tersebut merupakan bagian dari program sekolah inovasi desa yang dikembangkan Pemkab PPU bersama UGM dengan konsep satu desa satu inovasi. Program itu juga terintegrasi dengan penguatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sebagai upaya meningkatkan kemandirian ekonomi desa berbasis sektor pertanian.
Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah (Setda) PPU, Nicko Herlambang, mengatakan pengembangan varietas unggul tersebut menjadi salah satu langkah mendorong daya saing desa melalui pemanfaatan potensi lokal.
“Uji coba penanaman padi Gamagora-7 merupakan bagian dari program sekolah inovasi desa untuk mewujudkan satu desa satu inovasi,” kata Nicko Herlambang, sebagaimana diberitakan Balpos, Kamis (21/05/2026).
Menurutnya, kolaborasi antara Pemkab PPU dan UGM melalui KAGAMA sejalan dengan visi pembangunan desa yang berorientasi pada kemandirian dan penguatan sektor pertanian sebagai penopang ekonomi masyarakat.
Desa Sidorejo dikenal sebagai kawasan agrobisnis dengan sekitar 70 persen penduduk bekerja sebagai petani. Desa tersebut memiliki lahan pertanian produktif seluas 318 hektare dengan potensi produksi mencapai sekitar 2.409 ton per musim panen yang dikelola melalui tim Brigade Pangan.
Kepala Desa (Kades) Sidorejo, Darisugi, menilai kehadiran varietas unggul Gamagora-7 dapat menjadi peluang untuk meningkatkan hasil panen sekaligus memperkuat ketahanan pangan desa.
“Sebagai desa agrobisnis, kami membutuhkan inovasi pertanian seperti padi unggul agar hasil panen meningkat dan mendukung ketahanan pangan,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua KAGAMA Kalimantan Timur (Kaltim), Laku Faudzul Idhi, menjelaskan bahwa Gamagora-7 memiliki kemampuan adaptasi tinggi terhadap kondisi iklim dan karakteristik tanah di wilayah PPU. Para petani juga akan mendapatkan pendampingan mulai dari tahap penanaman hingga pascapanen guna memastikan keberhasilan program.
Varietas yang dikembangkan oleh Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT) UGM tersebut dikenal sebagai padi amfibi karena mampu tumbuh di lahan basah maupun lahan kering tadah hujan. Selain itu, Gamagora-7 memiliki ketahanan terhadap hama wereng batang cokelat, hawar daun, dan penyakit blas.
“Padi Gamagora-7 yang diakui Kementerian Pertanian pada 28 Maret 2023 memiliki masa panen relatif singkat sekitar 104 hingga 119 hari dengan produktivitas mencapai 7,95 sampai 9,8 ton per hektare,” kata Faudzul Idhi.
Melalui uji coba ini, Pemkab PPU berharap inovasi pertanian berbasis desa dapat terus berkembang sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan petani, memperkuat BUMDes, dan mendukung kebutuhan pangan kawasan penyangga IKN secara berkelanjutan. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara