JAKARTA – Pemerintah menargetkan penguatan ekonomi nasional melalui percepatan hilirisasi sektor pertanian dan perkebunan. Strategi tersebut dinilai mampu meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri, memperluas peluang ekspor, sekaligus menjadikan desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru yang lebih mandiri.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengatakan hilirisasi menjadi langkah penting agar Indonesia tidak lagi bergantung pada ekspor bahan mentah. Menurutnya, pengolahan komoditas di dalam negeri akan menciptakan nilai ekonomi yang lebih besar dibandingkan menjual hasil produksi dalam bentuk bahan baku.
“Pemerintah fokus memperkuat hilirisasi komoditas pangan dan perkebunan agar Indonesia tidak lagi hanya mengekspor bahan mentah,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, sebagaimana diberitakan Antara, Selasa (19/05/2026).
Ia menjelaskan sejumlah komoditas yang saat ini didorong untuk masuk ke industri hilir antara lain kelapa, kakao, kopi, mete, lada, kelapa sawit, serta berbagai komoditas pangan strategis lainnya. Melalui proses pengolahan, komoditas tersebut diharapkan mampu menghasilkan produk bernilai jual lebih tinggi dan berdaya saing di pasar global.
Sebagai contoh, nilai ekspor kelapa Indonesia saat ini berkisar Rp20 triliun hingga Rp26 triliun per tahun. Namun, melalui hilirisasi menjadi berbagai produk turunan seperti virgin coconut oil (VCO), santan industri, coconut milk, arang (charcoal), dan produk pangan olahan, nilainya diproyeksikan meningkat hingga sekitar Rp60 triliun dalam jangka panjang.
Menurut Amran, sektor kelapa sawit telah menjadi contoh keberhasilan hilirisasi nasional. Saat ini sebagian besar ekspor sawit Indonesia berasal dari produk turunan seperti biodiesel, oleokimia, margarin, dan minyak goreng yang memiliki nilai tambah lebih tinggi dibandingkan bahan mentah.
Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya membangun ketahanan menghadapi dinamika ekonomi global, tetapi juga memperkuat fondasi pertumbuhan berbasis desa, pertanian, pangan, energi, dan industri hilir nasional.
Amran menambahkan, ketika desa mampu memenuhi kebutuhan dasarnya secara mandiri dan hasil pertanian diolah menjadi produk bernilai tambah di dalam negeri, maka penguatan dolar Amerika Serikat justru dapat menjadi peluang untuk meningkatkan ekspor sekaligus memperkuat perekonomian nasional. Harapannya, hilirisasi mampu menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan kesejahteraan petani, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata hingga ke wilayah pedesaan. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara