BANGKA SELATAN – Alih fungsi kawasan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit mulai berdampak terhadap keberlangsungan pengrajin kapal tradisional di Desa Bangka Kota, Kecamatan Simpang Rimba, Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung. Para pengrajin kini kesulitan memperoleh kayu berkualitas untuk membuat kapal nelayan, sehingga biaya produksi terus meningkat.
Salah seorang pengrajin kapal kayu, Musri (49), mengatakan kondisi tersebut sudah dirasakan dalam beberapa tahun terakhir. Kayu meranti yang dahulu menjadi bahan utama pembuatan kapal kini semakin sulit ditemukan di sekitar desa.
“Sekarang kayu meranti sudah susah dicari, jadi kami pakai kayu lain yang masih kuat untuk kapal. Misalnya kayu seru, mentru untuk papan badan kapal,” kata Musri.
Menurutnya, sebagian besar kawasan hutan di sekitar Desa Bangka Kota telah berubah menjadi kebun kelapa sawit. Akibatnya, pengrajin harus mencari bahan baku hingga ke luar desa seperti Desa Rajik, Desa Permis, dan sejumlah wilayah lain agar proses produksi tetap berjalan.
Musri menjelaskan, kayu meranti selama ini dipilih karena memiliki karakter tahan air, tidak mudah lapuk, serta ringan untuk konstruksi kapal. Namun, keterbatasan bahan baku membuat pengrajin kini menggunakan alternatif lain seperti kayu seru dan mentru untuk badan kapal, sedangkan bagian rangka memakai kayu leban atau jati.
“Kalau dulu satu papan badan kapal cukup satu lembar kayu, sekarang sudah sulit mencari kayu ukuran besar,” jelasnya.
Selain bahan baku yang semakin langka, harga kayu juga mengalami kenaikan sehingga menambah beban biaya produksi. Bahkan, untuk membeli kayu, Musri mengaku terkadang harus meminjam modal hingga Rp25 juta melalui Bank Mekar agar pengerjaan kapal tetap berjalan.
Satu unit kapal berukuran 11 hingga 12 meter, kata Musri, membutuhkan waktu pengerjaan sekitar satu setengah bulan. Kapal tersebut dibuat berdasarkan pesanan nelayan dari sejumlah daerah pesisir seperti Sungsang di Sumatera Selatan, Sungai Selan, Sungailiat, Permis, hingga Sebagin.
“Kalau ada pesanan biasanya satu kapal selesai sekitar satu bulan setengah,” ujarnya, sebagaimana diberitakan Bangka Pos, Rabu, (13/05/2026).
Di tengah keterbatasan bahan baku, pengrajin kapal tradisional juga menghadapi kendala alat produksi yang mulai menua dan sering rusak. Mesin senso dan bor yang menjadi peralatan utama membutuhkan biaya perawatan cukup besar.
Musri mengaku selama hampir empat dekade menjalani profesi sebagai pengrajin kapal kayu, dirinya belum pernah menerima bantuan pemerintah untuk mendukung keberlangsungan usaha tersebut.
“Dari tahun 1987 sampai sekarang belum ada bantuan pemerintah untuk pengrajin kapal,” pungkas Musri.
Keberadaan pengrajin kapal tradisional di Desa Bangka Kota selama ini menjadi bagian penting aktivitas ekonomi masyarakat pesisir. Namun, tekanan terhadap ketersediaan bahan baku kayu dan meningkatnya biaya produksi dikhawatirkan dapat mengancam keberlanjutan usaha warisan turun-temurun tersebut. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara