MANGGARAI – Penurunan signifikan Dana Desa di Wae Mulu, Kecamatan Wae Ri’i, memaksa calon Kepala Desa (Cakdes) untuk mengubah strategi pembangunan. Teodorus Weke menekankan bahwa keterampilan melobi ke berbagai tingkat pemerintahan kini menjadi kunci untuk menghadirkan program pembangunan yang berdampak bagi warga desa.
Menurut Teodorus, anggaran desa yang sebelumnya mencapai Rp1,2 miliar kini hanya tersisa sekitar Rp325 juta, berkurang hampir Rp900 juta. Hal ini membuat Dana Desa Wae Mulu tidak cukup untuk membiayai pembangunan fisik karena sebagian besar anggaran terserap untuk operasional dan gaji perangkat desa.
“Kalau cuma nunggu Dana Desa, jalan tani tidak akan pernah diaspal, air bersih tidak akan ngalir lancar. Jujur saja, Rp325 juta habis buat operasional dan gaji, pembangunan fisiknya, kita dapat apa,” ungkap Teodorus, sebagaimana dilansir VoxNtt, Senin, (12/05/2026).
Teodorus menekankan bahwa kepala desa periode 2026-2034 harus aktif menjalin jaringan dan mencari sumber pendanaan di luar Dana Desa. Menurut dia, strategi lobi bisa dilakukan mulai dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab), Pemerintah Provinsi (Pemprov), hingga pemerintah pusat dengan membawa proposal dan mempresentasikan program desa.
“Menjadi kepala desa sekarang harus tahu cara lobi pembangunan. Lobi ke Kabupaten, lobi ke Provinsi sampai lobi ke Pusat. Harus berani ketuk pintu Dinas, bawa proposal, presentasi program Wae Mulu,” tegasnya.
Selain itu, Teodorus menekankan pentingnya masyarakat memilih calon kepala desa berdasarkan kapasitas membawa program pembangunan, bukan karena kedekatan pribadi atau pemberian uang. “Masyarakat harus tanya ke calon bapak punya link ke mana, bapak pernah bawa program dari luar ke desa atau belum. Jangan pilih Cakdes karena kasih amplop. Pilih karena dia tahu jalan ambil anggaran di luar Dana Desa,” imbuhnya.
Ia optimistis bahwa masa jabatan delapan tahun sesuai Undang-Undang Desa Nomor 3 Tahun 2024 cukup untuk membawa perubahan signifikan apabila kepala desa aktif dan inovatif. “Kalau Kadesnya diam di kantor, 8 tahun Wae Mulu jalan di tempat. Tapi kalau Kadesnya rajin jemput bola ke Ruteng sampai Jakarta, 8 tahun cukup untuk ubah wajah desa,” kata Teodorus.
Dengan kondisi ini, tantangan utama bagi calon kepala desa bukan lagi janji politik semata, melainkan kemampuan menjemput peluang pembangunan agar desa tidak tertinggal. Teodorus menegaskan, nyali, jaringan, dan kemauan bekerja nyata menjadi syarat mutlak bagi calon kepala desa di Wae Mulu.[]
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara