Pentas Thongprak di Jepara Gaungkan Kritik Penebangan Hutan

JEPARA – Pentas seni tradisional thongprak bertajuk Uwit di Desa Sukosono, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah (Jateng), tidak sekadar menjadi hiburan warga. Pertunjukan budaya tersebut juga menjadi media kritik terhadap penebangan hutan dan ajakan menjaga kelestarian sumber mata air desa, sebagaimana diberitakan Beritasatu, Senin (11/05/2026).

Ratusan warga memadati Dukuh Winong, Desa Sukosono, Sabtu (09/05/2026) malam, untuk menyaksikan pementasan yang dibawakan Komunitas Baress. Lakon tersebut mengangkat kisah seorang pemburu kayu bernama Bordi yang ingin menebang pohon winong demi kebutuhan industri mebel.

Namun, rencana itu ditentang Kang No, pedagang kopi keliling yang meyakini pohon winong merupakan sumber kehidupan masyarakat karena menjaga keberlangsungan mata air dan area persawahan warga.

“Aku tidak rela kalau pohon itu kamu beli terus ditebang. Pohon itu sumber kehidupan warga,” ujar Kang No dalam dialog berbahasa Jawa yang diperankan Rhobi Shani.

Melalui dialog satir dan humor khas rakyat, pertunjukan tersebut menyoroti dampak penebangan liar terhadap lingkungan. Dalam salah satu adegan, Kang No mengingatkan bahwa banjir bandang yang kerap terjadi merupakan akibat berkurangnya pepohonan besar di kawasan hutan.

“Boleh menebang pohon, tetapi harus didahului dengan menanam. Jadi ketika pohon besar ditebang sudah ada penggantinya,” tegas Kang No.

Selain isu lingkungan, pementasan itu juga menyisipkan pesan persatuan dan nasionalisme. Dalam adegan lain, Kang No meminta Bordi menghafalkan kembali Pancasila, khususnya sila ketiga tentang Persatuan Indonesia yang dianalogikan dengan pohon beringin sebagai simbol pengayom masyarakat.

Suasana semakin meriah saat para penonton diajak menyanyikan lagu Garuda Pancasila bersama iringan musik thongthek. Pertunjukan berdurasi dua jam tersebut juga diselingi aksi komedi Amin Sururi dan Sugiyarto yang mengundang gelak tawa warga.

Kepala Dusun atau Modin Desa Sukosono, Muhammad Sholeh, mengajak masyarakat untuk terus menjaga sumber mata air dengan melestarikan pepohonan di lingkungan desa.

“Kalau bisa malah menanam sebanyak-banyaknya,” katanya.

Pementasan thongprak menjadi puncak acara Gelar Budaya Belik Winong yang rutin digelar setiap bulan Apit dalam penanggalan Jawa. Tradisi tersebut merupakan bentuk ruwatan banyu panguripan atau sedekah bumi sebagai ungkapan syukur masyarakat desa.

Ketua Rukun Tetangga (RT) 12 Sukosono, Sunarto, mengatakan kegiatan budaya itu dilaksanakan secara swadaya oleh warga dan diharapkan terus berlangsung setiap tahun.

“Tahun lalu ada penampilan Maestro Kentrung Jepara Mbah Parmo. Tahun ini thongprak. Semoga tahun depan bisa kembali digelar,” ujarnya. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Tradisi Ujungan Jadi Ikhtiar Desa Gumelem Wetan Hadapi Kemarau

PDF đź“„Desa Gumelem Wetan kembali menjadi ruang pelestarian tradisi Ujungan yang diwariskan secara turun-temurun, sekaligus …

Desa Jiporapah Perkuat Warga Dusun Terpencil lewat Tradisi dan Infrastruktur

PDF đź“„Pemerintah Desa Jiporapah mempertahankan kebersamaan warga Dusun Kedung Dendeng melalui pelestarian tradisi sekaligus dukungan …

Lima Warga Jadi Pengrajin, Batik Dorong Potensi Ekonomi Desa Jalatrang

PDF đź“„Desa Jalatrang, Ciamis, mengembangkan batik bukan hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai bagian …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *