JEMBER – Festival Egrang Tanoker ke-14 di Desa Ledokombo, Kabupaten Jember, Jawa Timur, tidak hanya menjadi perayaan permainan tradisional, tetapi juga berkembang menjadi gerakan sosial yang menghubungkan pendidikan karakter, penguatan ekonomi warga, dan pelestarian budaya di tengah derasnya arus digitalisasi. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu (9/5/2026) itu kembali menegaskan posisi permainan egrang sebagai media pembelajaran lintas generasi yang masih relevan hingga saat ini.
Festival yang mengusung tema “Membangun Harmoni Komunitas Melalui Permainan Tradisional” tersebut dihadiri Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia Nezar Patria, Sekretaris Daerah Kabupaten Jember Akhmad Helmi Luqman yang mewakili Bupati Jember Gus Fawait, komunitas pendidikan, pelaku pariwisata, relawan, hingga masyarakat setempat. Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa kegiatan ini telah berkembang melampaui sekadar agenda budaya.
Dalam sambutannya, Nezar Patria menilai permainan tradisional seperti egrang memiliki nilai strategis dalam pembentukan karakter anak di era digital. Ia menyebut permainan tersebut mengajarkan keberanian, keseimbangan, kerja sama, serta ketangguhan mental. “Permainan egrang mengajarkan keberanian, keseimbangan, kerja sama, dan semangat untuk bangkit ketika jatuh. Nilai-nilai seperti ini sangat penting untuk membangun karakter generasi muda Indonesia,” ujar Nezar sebagaimana dilansir Surabaya Pagi, Senin (11/05/2026).
Ia juga menilai Festival Egrang Tanoker telah berkembang menjadi ekosistem sosial yang mendorong aktivitas pendidikan berbasis komunitas, penguatan ekonomi lokal, hingga promosi identitas budaya daerah.
Sementara itu, Akhmad Helmi Luqman menegaskan bahwa keberadaan festival ini menjadi bukti nyata bahwa tradisi masih memiliki ruang penting di tengah modernisasi. Menurutnya, permainan egrang bukan hanya warisan budaya, tetapi juga sarana pembelajaran nilai kehidupan seperti ketekunan, fokus, dan sportivitas.
Dari sisi komunitas, Penasihat Tanoker Ledokombo Suporahardjo menjelaskan bahwa gerakan Tanoker berawal dari aktivitas sederhana bersama anak-anak desa yang kemudian berkembang menjadi ruang pemberdayaan masyarakat. Festival ini kini menjadi wadah pertemuan lintas generasi sekaligus penggerak wisata budaya berbasis komunitas di Ledokombo.
Selama 14 tahun pelaksanaannya, Festival Egrang Tanoker juga tercatat pernah meraih penghargaan Indonesia Sustainable Tourism Award pada 2018 atas kontribusinya dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan berbasis masyarakat.
Keberlanjutan festival ini menunjukkan bahwa permainan tradisional dapat bertransformasi menjadi instrumen pembangunan sosial yang berdampak luas, tidak hanya pada aspek budaya, tetapi juga ekonomi kreatif dan pendidikan karakter di tingkat desa. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara