BANGKA SELATAN – Tiga rumah adat berbahan kayu berusia ratusan tahun di Desa Ranggung, Kecamatan Payung, Kabupaten Bangka Selatan (Basel), masih berdiri kokoh dan dihuni hingga kini, menjadi bukti ketahanan konstruksi tradisional sekaligus tantangan pelestarian di tengah keterbatasan material modern.
Rumah-rumah tersebut dibangun dalam rentang waktu yang berdekatan dengan karakteristik serupa, yakni menggunakan kayu nyatoh dan teknik sambungan tradisional pelideh tanpa celah. Struktur ini dinilai mampu menjaga kekuatan bangunan hingga ratusan tahun meskipun telah mengalami sebagian renovasi.
Tokoh adat Desa Ranggung, Zainuddin, menjelaskan bahwa ketiga rumah tersebut memiliki kesamaan dari segi bahan dan teknik pembangunan. “Di Ranggung ini ada tiga rumah yang hampir sama. Dibuatnya tidak jauh beda tahunnya, dan semuanya pakai kayu nyatoh,” ujarnya sebagaimana diwartakan Bangkapos, Senin (27/04/2026).
Ia juga mengungkapkan bahwa ukuran material kayu pada masa lalu jauh lebih besar dibandingkan saat ini. “Orang tua dulu bilang, satu rumah ini cukup sebatang kayu saja. Bayangkan besarnya seperti apa,” ungkapnya.
Menurut Zainuddin, kayu nyatoh memiliki daya tahan tinggi terhadap cuaca dan serangan rayap, sehingga menjadi faktor utama yang membuat bangunan tetap kokoh hingga sekarang. Namun, ketersediaan kayu berukuran besar kini semakin langka dan mahal. “Sekarang kayu sebesar itu sudah tidak ada lagi. Kalau pun ada, sangat sulit dan mahal,” kata Zainuddin.
Sementara itu, meskipun beberapa bagian rumah telah mengalami perubahan seperti penggunaan beton pada tiang atau tambahan struktur modern, bentuk utama bangunan tetap dipertahankan. Keberadaan rumah ini tidak hanya menjadi hunian, tetapi juga representasi kemampuan teknik konstruksi masyarakat masa lalu.
Zainuddin menegaskan pentingnya menjaga keberadaan rumah adat tersebut sebagai warisan budaya. “Ini bukan hanya rumah, tapi bukti keahlian orang dulu. Harapannya tetap dijaga, jangan sampai hilang,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Amrullah, salah satu penghuni rumah tertua, yang berharap keaslian bangunan tetap dipertahankan. “Kalau masih bagus, biarkan tetap seperti ini. Ini peninggalan orang tua,” tutupnya.
Keberadaan rumah-rumah adat ini kini menjadi simbol identitas budaya Desa Ranggung sekaligus pengingat akan pentingnya pelestarian warisan leluhur di tengah perubahan zaman. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara