TULUNGAGUNG – Tradisi Ulur-ulur kembali digelar masyarakat dari empat desa di Kecamatan Campurdarat sebagai bentuk syukur atas keberlanjutan sumber air Telaga Buret yang menopang kehidupan pertanian dan ekosistem setempat, Sabtu (25/4/2026).
Upacara adat ini melibatkan warga Desa Sawo, Desa Gedangan, Desa Ngentrong, dan Desa Gamping, serta Kasepuhan Tirta Mulya (KTM). Prosesi dimulai dengan kirab budaya membawa aneka sesaji dari desa menuju Telaga Buret yang berada di Desa Sawo, dilanjutkan dengan ritual ziarah dan penyucian simbol pertanian berupa patung Joko Sedono dan Dewi Sri.
Salah satu tokoh masyarakat, Pamuji, menegaskan bahwa tradisi ini merupakan warisan leluhur yang memiliki makna mendalam terkait keberlanjutan sumber daya air dan kesejahteraan masyarakat.
“Tanda bersyukur, air yang keluar dari telaga ini meluber ke sawah. Akhirnya sawah yang bisa dialiri dengan air ini, bisa mengeluarkan tanaman pangan. Yang memanfaatkan air ini bukan petani saja, pengusaha pun ya menggunakan dari air telaga ini,” kata Pamuji, sebagaimana diberitakan Detikjatim, Sabtu (25/04/2026).
Ia menjelaskan, rangkaian ritual juga mencerminkan filosofi memberi, di mana masyarakat membawa makanan sebagai simbol rasa syukur. Tradisi ini diyakini berkaitan dengan kisah masa lalu tentang pertapa dari Mataram serta simbol Dewi Sri dan Joko Sedono sebagai representasi kesuburan pangan.
Selain aspek budaya, kegiatan ini juga menegaskan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan Telaga Buret yang memiliki luas sekitar 22,8 hektare dan menjadi bagian penting dari ekosistem alami di wilayah tersebut.
“Jangan sampai lingkungan telaga ini dipunahkan. Langkah keduanya harus direboisasi kembali yang lebih rindang, sumbernya lebih banyak,” imbuhnya.
Melalui tradisi yang terus dipertahankan ini, masyarakat berharap keseimbangan antara budaya, lingkungan, dan kebutuhan ekonomi tetap terjaga, sekaligus memperkuat identitas lokal desa di tengah perubahan zaman. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara