GROBOGAN – Inisiatif pengembangan koridor hijau produktif berbasis riset dan inovasi teknologi mulai diterapkan di Desa Mojoagung, Kecamatan Karangrayung, Kabupaten Grobogan. Program yang digagas Ikatan Pemuda Penggerak Desa Indonesia (IPDA) bersama Pemerintah Desa Mojoagung ini difokuskan untuk memperkuat ketahanan lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi warga melalui pendekatan berkelanjutan.
Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis (23/04/2026) dengan diawali aksi penanaman pohon alpukat di sepanjang wilayah desa, khususnya di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Tuntang. Penanaman tersebut menggunakan metode agroforestry linear guna meningkatkan daya serap air, memperkuat struktur tanah, serta menekan risiko erosi dan banjir.
Selain aksi lapangan, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi lingkungan desa yang membahas persoalan banjir, kerusakan vegetasi, serta pentingnya tata kelola lingkungan berbasis data dan riset. Program ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah, hingga Pemerintah Kabupaten Grobogan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah menyatakan dukungannya terhadap program tersebut. “Pendekatan seperti ini penting karena langsung menyentuh akar persoalan. Penataan vegetasi yang tepat di tingkat desa akan sangat berpengaruh terhadap stabilitas lingkungan, khususnya dalam mengurangi risiko banjir dan erosi,” ujarnya.
Perwakilan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Jawa Tengah menambahkan bahwa penguatan inovasi berbasis riset menjadi kunci keberlanjutan program. “Kegiatan ini menjadi contoh awal bagaimana inovasi lingkungan bisa dikembangkan dari desa. Ke depan, perlu didorong pemanfaatan data, riset, dan teknologi agar model seperti ini dapat direplikasi dan ditingkatkan skalanya,” ungkapnya.
Ketua IPDA menegaskan bahwa gerakan ini bukan sekadar simbolik, melainkan bagian dari strategi jangka panjang pembangunan desa. “Kami ingin mendorong desa sebagai pusat inovasi. Penanaman ini bukan sekadar kegiatan simbolik, tetapi bagian dari upaya membangun sistem ekologis desa yang produktif dan berkelanjutan, dengan melibatkan masyarakat sebagai aktor utama,” ujarnya.
Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) IPDA, Muhammad Sakur, menekankan bahwa pendekatan yang digunakan berbasis bukti ilmiah. “Yang kita bangun adalah model berbasis evidence. Pemilihan vegetasi, desain penanaman, hingga arah pengembangannya didasarkan pada kajian ilmiah terkait konservasi tanah dan air. Dengan keterlibatan Badan Riset dan Inovasi Nasional dan BRIDA, kita membuka ruang untuk penguatan berbasis data, sekaligus mendorong integrasi dengan skema ekonomi lingkungan dan pembiayaan hijau,” jelasnya, sebagaimana diberitakan Smol Id, Kamis (23/04/2026).
Program ini diharapkan menjadi model pembangunan desa hijau yang mengintegrasikan aspek ekologis, ekonomi, dan kelembagaan secara simultan, serta mendorong perubahan dari pendekatan penanganan bencana yang reaktif menuju sistem yang lebih preventif dan berkelanjutan. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara