Jembul Tulakan Jepara Bangkitkan Ekonomi Desa Lewat Tradisi Leluhur

JEPARA Tradisi Jembul Tulakan di Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah kembali digelar pada Senin (20/4/2026) dengan melibatkan ribuan warga. Perayaan budaya ini tak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi juga dinilai berpotensi mendorong sektor ekonomi berbasis kearifan lokal.

Tradisi yang telah diakui sebagai warisan budaya tak benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sejak 2020 ini sarat nilai sejarah dan spiritual. Kegiatan dipusatkan di Desa Tulakan dengan arak-arakan budaya yang menampilkan simbol-simbol keseimbangan hidup masyarakat setempat.

Petinggi Desa Tulakan Budi Sutrisno mengatakan tradisi tersebut merupakan bentuk sedekah bumi sekaligus penghormatan kepada leluhur. “Ini bukan sekadar budaya, tetapi juga doa bersama masyarakat. Nilai spiritualnya terus dijaga secara turun-temurun,” ujarnya, sebagaimana diberitakan Beritasatu, Selasa (21/04/2026).

Dalam pelaksanaannya, tradisi Jembul Tulakan terbagi menjadi dua bagian utama, yakni Jembul Lanang dan Jembul Wedok. Jembul Lanang berisi hasil bumi seperti sayur dan buah, sedangkan Jembul Wedok berisi aneka lauk pauk. Keduanya disusun menggunakan ancak yang dihias bambu dan kain berwarna, mencerminkan filosofi keseimbangan kehidupan.

Arak-arakan budaya semakin semarak dengan kehadiran tokoh-tokoh punggawa rakyat seperti Said Usman, Suto Mangun Joyo, dan Mbah Leseh yang diiringi pasukan prajurit dari masing-masing dukuh. Unsur ini memperkuat identitas sejarah kolektif masyarakat Desa Tulakan.

Bupati Jepara Witiarso Utomo mengapresiasi konsistensi warga dalam menjaga tradisi tersebut. Ia menilai Jembul Tulakan memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai agenda wisata budaya. “Ini kekayaan budaya luar biasa. Jika dikemas lebih baik, dapat menarik wisatawan sekaligus menggerakkan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM),” ujarnya.

Selain aspek budaya dan ekonomi, tradisi ini juga menjadi sarana edukasi bagi generasi muda. Salah satu pelajar, Angelin (16), mengaku terkesan dengan nilai yang terkandung dalam kegiatan tersebut.

Tradisi Jembul Tulakan kini tidak hanya berfungsi sebagai ritual spiritual, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi desa dan penguat identitas budaya di tengah arus modernisasi. Ke depan, pengembangan yang lebih terstruktur diharapkan mampu meningkatkan daya tarik wisata sekaligus kesejahteraan masyarakat setempat. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Omzet Rp722 Juta, Desa Lerep Tunjukkan Kemandirian Ekonomi

PDF đź“„KABUPATEN SEMARANG – Desa Wisata Lerep di Kecamatan Ungaran Barat mencatat capaian signifikan sepanjang …

1.500 Porsi Kuliner Tradisional Ramaikan Festival Budaya Tontayuo

PDF đź“„GORONTALO – Pemerintah Desa Tontayuo, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo, tengah mendorong transformasi desa …

Desa Putik Tanam Mangrove, Kolaborasi Desa dan Sekolah Jadi Sorotan

PDF đź“„KEPULAUAN ANAMBAS – Upaya pelestarian pesisir di Desa Putik, Kecamatan Palmatak, Kabupaten Kepulauan Anambas …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *