TRENGGALEK – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Trenggalek mendorong fleksibilitas pengembangan usaha dalam Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih dengan menyesuaikan potensi lokal masing-masing desa. Pendekatan ini dinilai penting agar koperasi tidak berjalan seragam, melainkan relevan dengan kebutuhan riil masyarakat desa.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Trenggalek, Saniran, menyampaikan bahwa unit usaha Kopdes dapat dikembangkan dalam berbagai sektor, mulai dari gerai sembako, pergudangan, apotek, hingga layanan simpan pinjam.
“Bidangnya banyak, ada gerai sembako, pergudangan, apotek, simpan pinjam, dan gerai lainnya sesuai potensi daerah,” ujarnya sebagaimana dilansir Suara Trenggalek, Senin (20/04/2026).
Menurutnya, pemerintah tidak membatasi jenis usaha tertentu dalam pengembangan Kopdes. Desa justru diberi keleluasaan untuk menentukan sektor yang paling sesuai dengan kondisi dan potensi wilayah masing-masing.
“Silakan sesuai potensi masing-masing desa. Tapi harus diawali dengan analisis bisnis yang tepat untuk koperasinya,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa tidak semua jenis usaha wajib dijalankan oleh setiap Kopdes. Penentuan sektor usaha harus mempertimbangkan kebutuhan mendesak di tiap desa.
“Tidak wajib semua. Dilihat mana yang paling urgent sesuai kondisi desa,” katanya.
Berdasarkan evaluasi sementara, sektor sembako menjadi yang paling dominan karena berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat. Selain itu, sektor pertanian juga menjadi potensi unggulan di sejumlah desa, sementara layanan kesehatan seperti apotek dan klinik dinilai penting terutama di wilayah terpencil.
Dari sisi perkembangan program, Saniran menjelaskan bahwa Kopdes di Trenggalek telah memasuki tahap kedua, yakni pembangunan sarana dan prasarana serta operasional, setelah sebelumnya menyelesaikan tahap pendirian dan legalitas.
“Etape pertama pendirian dan legalitas sudah selesai. Sekarang masuk tahap pembangunan sarana dan prasarana serta operasional,” jelasnya.
Hingga Maret 2026, sebanyak 14 Kopdes telah rampung dibangun, dan kini bertambah menjadi 15 unit yang siap beroperasi penuh.
“Yang sudah selesai 100 persen sebelumnya 14, sekarang sudah bertambah jadi 15,” tambahnya.
Pemkab Trenggalek berharap pendekatan berbasis potensi lokal ini mampu menjadikan Kopdes sebagai motor penggerak ekonomi desa yang adaptif dan berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di tingkat desa. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara