GUNUNGKIDUL – Pengembangan penangkaran rusa di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Bunder mulai dipersiapkan sebagai strategi baru untuk mendorong ekonomi masyarakat desa hutan, sekaligus menjaga keberlanjutan konservasi satwa liar.
Program yang digagas oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Daerah Istimewa Yogyakarta (DLHK DIY) ini menitikberatkan pada pemanfaatan keanekaragaman hayati secara produktif tanpa mengabaikan aspek pelestarian lingkungan. Penangkaran rusa dinilai memiliki potensi ekonomi sekaligus edukatif bagi masyarakat sekitar kawasan hutan.
Kepala DLHK DIY, Kusno Wibowo, menyatakan bahwa penangkaran rusa tidak hanya berfungsi sebagai upaya konservasi, tetapi juga mampu memberikan nilai tambah ekonomi bagi warga. “Penangkaran rusa selain untuk konservasi juga dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya, sebagaimana dilansir Harian Jogja, Jumat, (17/4/2026).
Balai Tahura Bunder yang berada di bawah DLHK DIY diketahui telah memelihara rusa jenis timorensis sejak 2016. Satwa tersebut berasal dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta dan kini populasinya terus berkembang, membuka peluang pengembangan berbasis masyarakat.
Kepala Balai Tahura Bunder, Alex Zubaedi, menjelaskan bahwa tahap awal program akan dimulai melalui model percontohan atau demplot di satu lokasi. Dalam skema tersebut, masyarakat akan menerima indukan berupa satu rusa jantan dan empat betina sebagai titipan.
Indukan tersebut tidak diperkenankan untuk diperjualbelikan, sementara hasil anakan menjadi hak kelompok masyarakat atau Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal). Model ini diharapkan mampu menciptakan sumber pendapatan baru sekaligus menjaga keberlanjutan populasi rusa.
Dari sisi akademik, tenaga ahli Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM), Annisa’ Qurrotun A’yun, menilai bahwa penangkaran rusa memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan. Selain daging, potensi keuntungan juga berasal dari penjualan bibit rusa hidup hingga ranggah.
Potensi tersebut dinilai akan semakin berkembang apabila dikombinasikan dengan sektor wisata alam dan edukasi lingkungan di kawasan Tahura Bunder.
Meski demikian, implementasi program masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait keterbatasan pengetahuan masyarakat mengenai teknik penangkaran, perizinan, serta akses pasar. Oleh karena itu, diperlukan pendampingan berkelanjutan dari pemerintah.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta, Darmanto, menegaskan bahwa pihaknya siap mendukung proses perizinan dan pembinaan teknis bagi masyarakat dalam menjalankan program tersebut.
Dengan skema yang tepat, penangkaran rusa di Tahura Bunder diharapkan tidak hanya menjadi upaya pelestarian satwa, tetapi juga menjadi sumber ekonomi baru yang berkelanjutan bagi desa hutan di Gunungkidul. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara