BANGKA SELATAN – Ancaman gagal panen membayangi sekitar 500 hektare lahan persawahan di Desa Rias, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan (Bangka Selatan), akibat kombinasi kemarau panjang dan sistem irigasi yang tidak berfungsi optimal menjelang musim tanam 2026.
Kondisi ini memicu kekhawatiran di kalangan petani karena pasokan air ke sawah terus menurun. Air yang tersedia di saluran irigasi kini hanya mencapai ketinggian betis orang dewasa, sehingga tidak cukup untuk mengairi lahan secara merata.
Ketua Kelompok Tani Marsudi Tani 3, Wahidman, mengungkapkan bahwa situasi tersebut mulai dirasakan sejak beberapa waktu terakhir dan belum menunjukkan tanda perbaikan. “Kami was-was terancam gagal panen pada musim tanam tahun 2026 ini akibat kemarau panjang,” katanya lirih.
Ia menjelaskan, persoalan utama terletak pada Bendungan Pumpung yang tidak mampu menahan aliran air. Air justru mengalir langsung ke laut tanpa dimanfaatkan untuk irigasi sawah, akibat kondisi mercu bendungan yang dinilai terlalu rendah.
Permasalahan ini disebut telah terjadi sejak 2024, namun hingga kini belum ada penanganan signifikan. Saluran irigasi menuju lahan pertanian juga mengalami penurunan fungsi, dengan beberapa bagian mengering dan sebagian lainnya tergenang tanpa aliran yang jelas.
“Salurah irigasi harus dikembalikan lagi seperti semula sekitar 30 meter lagi. Jadi air bisa lancar untuk mengairi sawah sampai ke kelompok kami,” kata Wahidman.
Dampak dari keterbatasan air ini diperkirakan akan menurunkan produksi padi secara signifikan. Padahal, pada musim sebelumnya petani mampu menghasilkan hingga enam sampai tujuh ton per hektare.
“Kalau kekurangan air, produksi padi bisa berkurang dan petani banyak menghadapi kendala,” sebutnya.
Upaya swadaya sempat dilakukan petani dengan meninggikan tanggul bendungan menggunakan karung berisi pasir. Namun, upaya tersebut tidak bertahan lama karena derasnya arus air yang merusak struktur tanggul darurat tersebut.
Wahidman juga menyoroti kondisi bendungan yang justru mengalami penurunan ketinggian setelah perbaikan pada 2023, yang semula diharapkan menjadi solusi. Kini, kondisi tersebut dinilai semakin memperparah distribusi air ke lahan pertanian.
“Kami khawatir petani merugi karena kendala air jika tidak segera ditangani,” keluhnya.
Meski demikian, semangat gotong royong masih terjaga di kalangan petani yang berencana membangun tanggul permanen. Namun, rencana tersebut terkendala status bendungan sebagai aset negara yang berpotensi menimbulkan persoalan hukum.
Jika kondisi ini terus berlanjut, ancaman puso atau gagal panen total menjadi risiko nyata, terlebih dengan pola tanam yang mencapai tiga kali dalam setahun sehingga kebutuhan air semakin tinggi. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara