Lingkungan Jadi Kunci, Pendidikan Desa Masih Tertinggal

JAKARTA – Kesenjangan akses pendidikan antara wilayah perkotaan dan pedesaan masih dipengaruhi kuat oleh faktor lingkungan non-akademik, mulai dari infrastruktur hingga budaya sosial, yang berimbas langsung pada peluang melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

Fenomena ini terlihat dari perbedaan mencolok antara wilayah perkotaan seperti Jakarta dan daerah pelosok seperti Soreang di Jawa Barat. Di perkotaan, pelajar memiliki akses luas terhadap fasilitas belajar modern seperti tutor online, buku digital, hingga dukungan orang tua dengan latar belakang profesional. Kondisi tersebut mendorong peningkatan angka kelulusan ke perguruan tinggi.

Sebaliknya, di wilayah pedesaan, hambatan lingkungan masih menjadi tantangan utama. Infrastruktur yang belum memadai seperti jalan rusak akibat banjir musiman, gangguan listrik saat ujian, hingga budaya yang membatasi pendidikan hanya sampai sekolah dasar menjadi faktor penghambat. Hal ini berdampak pada rendahnya angka partisipasi pendidikan lanjutan di desa.

Data dari United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menunjukkan bahwa sekitar 70 persen kesenjangan pendidikan global dipengaruhi oleh faktor lingkungan non-akademik. Temuan ini mempertegas bahwa kualitas lingkungan memiliki peran strategis dalam menentukan keberhasilan pendidikan.

Selain itu, kondisi lingkungan yang kurang mendukung, seperti polusi udara di kawasan industri atau norma sosial yang membatasi pendidikan perempuan di desa, turut memperburuk situasi. Anak-anak dari keluarga kurang mampu juga kerap harus bekerja paruh waktu sehingga waktu belajar mereka berkurang.

Pemerintah telah menggulirkan program Merdeka Belajar sebagai upaya meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Namun, tanpa dukungan lingkungan yang memadai seperti fasilitas sekolah yang layak di daerah terpencil serta akses teknologi yang merata, kesenjangan pendidikan diperkirakan masih akan terus terjadi.

Solusi yang diusulkan mencakup pembangunan ekosistem pendidikan berbasis lingkungan, seperti penyediaan pusat sumber daya digital di tingkat kecamatan, kampanye pencegahan putus sekolah, hingga kolaborasi dengan sektor swasta untuk penyediaan beasiswa.

Upaya tersebut diharapkan mampu menciptakan pemerataan akses pendidikan, khususnya di wilayah pedesaan, sehingga setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk meraih pendidikan yang lebih tinggi. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Tradisi Guar Bumi, Wujud Syukur Warga Desa Mindi atas Hasil Bumi

PDF 📄MAJALENGKA – Pelestarian tradisi leluhur dan penguatan kebersamaan warga menjadi pesan utama dalam perayaan …

Bupati Bone Ajak Warga Lestarikan Budaya dan Perhatikan Pendidikan

PDF 📄BONE – Pelestarian tradisi lokal dan penguatan kebersamaan masyarakat menjadi bagian utama Pesta Rakyat …

Perpustakaan Desa Dilibatkan dalam Festival Literasi Banggai 2026

PDF 📄BANGGAI – Perpustakaan desa mendapat kesempatan berpartisipasi dalam Festival Literasi yang dijadwalkan berlangsung pada …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *